Upload

Loading...

Ary Indra: Intuisi Membawa sebuah Arsitektur Menjadi Pener

4,212

Loading...

Loading...

Transcript

The interactive transcript could not be loaded.

Loading...

Loading...

Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.
Uploaded on Nov 1, 2011

Press CC on video player for English subtitle. "Pener" itu tepat. Yang tampak sudah benar, belum tentu tepat. Ketepatan berkaitan dengan intuisi dan kepekaan rasa. Praktik studio arsitektur saat ini, apakah dibina untuk kepekaan rasa atau sekedar keterampilan logika? Seharusnya ada perimbangan antara rasa-peka dan akal-tajam. Jika pembinaan terpadu, manusia tak akan kehilangan peri-kemanusiaannya.

Ary Indra, tampaknya bisa dikategorikan yang jeli ketika "menuliskan" kembali ciri ke-Nusantara-an pada desainnya. Seperti katanya: "Berarsitektur adalah sebuah proses mengingat..." Ingatan atau kesadaran tentang sifat dan keadaan Nusantara bisa jadi meresap pada sebagaian besar arsitek kita. Sayangnya, justru memori itu dibenamkan oleh informasi keilmuan yang sangat Eurocentric. Mungkin saja, hal itulah yang dijumpai pada tradisi lompat-batu "Fahombo" dari Nias Selatan. Ternyata itu merupakan substansi-filosofis karya Ary "Playing House" (2010). Bisa saja itu lebih penting atau paling tidak, sama penting dengan label, identitas, atau branding-nya sebagai "Slider of Joy" yang membuat karya itu terpilih sebagai salah satu dari 13 highly-commended projects dari The Emerging Architecture Award pada tahun yang sama. Konsepnya sebagai "ruang gravitasi" cukup langka pada karya arsitektur manapun di dunia.

Video ini adalah rangkuman Seri ke 5 dari Workshop dan Kuliah Tamu Arsitektur Nusantara Kontemporer di Universitas Brawijaya dan UIN Maliki Malang.

  • Category

  • License

    • Standard YouTube License

Loading...

When autoplay is enabled, a suggested video will automatically play next.

Up Next


Sign in to add this to Watch Later

Add to