Loading...

Tabuh Kreasi Kontemporer Jaya Baya ( 1 / 2 )

8,019 views

Loading...

Loading...

Loading...

Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.
Published on Oct 23, 2008

21 Juni 2003


Eksibisi Gamelan Internasional ( International Gamelan Exhibition )
Pesta Kesenian Bali ( Bali Arts Festival )

Panggung Terbuka
Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar


Gamelan Sekar Jaya, members




Karya ini digarap lewat media gamelan angklung sebagai titik pijak yang dipadukan dengan beberapa alat musik etnis lainnya, seperti violin, trumpet, clarinet, guitar, drum set, dan tabla.

Jaya Baya yang secara harfiah dapat diartikan sebagai "menang melawan bencana" kedengarannya nampak sederhana, namun jika dikaji lebih jauh mengandung makna yang sangat mendalam. Karena kemenangan yang sejati adalah mampu mengalahkan musuh yang ada dalam diri kita sendiri, yang pada intinya adalah pengendalian diri dan melakukan introspeksi diri.

Peristiwa 12 Oktober 2002 menimbulkan keprihatinan yang sangat mendalam, tidak saja bagi masyarakat Bali, akan tetapi seluruh masyarakat internasional. Walaupun peristiwa ini sangat menyedihkan namun masyarakat Bali tetap tabah mampu mengendalikan diri, sehingga tidak ada orang Bali yang memanfaatkan peristiwa tersebut untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji, seperti penjarahan dan lain sebagainya. Dengan melakukan langkah-langkah introspeksi seluruh masyarakat Bali menyikapi peristiwa ini dengan sangat bijaksana, upacara-upacara ritual keagamaan digelar tidak saja di tempat kejadian akan tetapi diikuti oleh masyarakat Bali yang ada di New York dan San Francisco, Amerika Serikat.

Dalam karya ini terjadi interaksi yang sifatnya saling isi mengisi, sehingga memunculkan suasana yang harmonis baik dari segi pengolahan melodi maupun ritme dan bersatu padu dalam langkah untuk mencapai kemenangan sejati.

Jaya Baya, dalam versi pertamanya, dipentaskan pertama kalinya pada tanggal 23 November 2002 di kota Mountain View, California dalam sebuah konser yang dipersembahkan kepada korban-korban kejadian 12 Oktober 2002. Semua pendapatan konser itu disumbangkan kepada Yayasan Bali Hati untuk digunakan dalam bantuan kemanusiaan.


This work is composed for gamelan angklung as the core instrumentation, combined with several instruments of other ethnic origins such as violin, trumpet, clarinet, flute, guitar, drum, and tabla.

Jaya Baya means, literally, "victory over disaster." Although the overall texture is rather simple and transparent, upon closer examination the piece carries deeper meanings. True victory is the ability to prevail over the enemies that reside within us, through self control and introspection.

The tragedy of October 12, 2002 was a cause for the deepest concern not only for Balinese society but for the international community. Even though it was an event of enormous sadness, the people of Bali remained steadfast and determined in their self-control — thus avoiding the unfortunate behavior, such as looting, that often follows such disasters. Through the process of introspection undertaken by all Balinese society, a wise response to this tragedy emerged. Ritual ceremonies of purifications were carried out at the site of the bombing in tandem with ceremonies in New York and San Francisco enacted by their respective Balinese communities.

Musically, the piece involves give-and-take interactions between the various parts that give rise to a harmonious atmosphere, both in its melodic and rhythmic treatment. The result is a unified whole that strives to achieve its own special True Victory.

Jaya Baya, in its first version, was premiered on November 23, 2002 in the city of Mountain View, California in a concert dedicated to the victims of the bombing in Bali on October 12, 2002. All of the proceeds from that concert were sent to the Bali Hati Foundation, as a contribution to their humanitarian relief efforts.

- I Nyoman Windha, komponis ( composer )




( penabuh ) :

I Made Subandi : vocal, percussion

Richard Marriott : flute & clarinet
Chris Grady : trumpet
Annie Reynolds : violin
David Hauer : guitar
Dan Kennedy : tabla

Wahyu Indira : pemade
Marianna Cherry : pemade
Andrew Zenk : kantilan
I Made Putrayasa : kantilan
Agus Cahyadi : suir
Phil Cox : suir
Avi Black : calung / jegogan
Barbara Golden : calung / jegogan
Maria Omo : kempur

  • Category

  • License

    • Standard YouTube License

Loading...

When autoplay is enabled, a suggested video will automatically play next.

Up next


to add this to Watch Later

Add to

Loading playlists...