Loading...

KICK ANDY: Bukan Wanita Biasa - [2/8]

8,073 views

Loading...

Loading...

Loading...

Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.
Published on Jan 14, 2013

Jumat, 11 Januari 2012

Di Jaman modern ini, masih banyak anggapan perempuan adalah kaum yang lemah. Pandangan semacam ini membuat perempuan dianggap remeh, dilecehkan, dan pemikirannya sering diabaikan. Tetapi kisah tiga perempuan yang akan tampil di Kick Andy kali ini akan mengubah pandangan miring seperti itu. Sebab dengan Kekuatan Cinta Wanita, mereka mampu mengubah kehidupan banyak orang.

Apa yang dilakukan seorang istri nelayan, Masnu'ah adalah luar biasa. Perempuan kelahiran Rembang, Jawa Tengah ini membantu para istri nelayan untuk meningkatkan penghasilan dan meningkatkan taraf hidup keluarga nelayan. "Penghasilan nelayan itu adalah suatu yang tidak pasti. Bahkan kadang tidak ada penghasilan sama sekali apabila cuaca di laut lagi tidak bersahabat," ujar Masnu'ah yang akrab disapa Mba Nuk ini.

Berbekal dari keadaan itulah, Mba Nuk akhirnya mengajak sejumlah istri nelayan di Desa Morodemak, Jawa Tengah untuk membuat suatu koperasi yang diberi nama Kelompok Puspita Bahari. Di organisasi ini mereka belajar agar hasil tangkapan para nelayan itu bisa meningkat nilainya. Jika selama ini hasil tangkapan nelayan yang berupa ikan itu dijual secara segar, maka ibu-ibu kelompok istri nelayan ini juga membuat dan menjual hasil olahan lainnya seperti ikan asin, kerupuk ikan dan lain-lainnya.

Bahkan yang lebih mencengangkan adalah walaupun Mbak Nuk ini hanya lulusan SD ia aktif di bidang hukum. Mba Nuk sering melakukan pendampingan para istri nelayan terutama para korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT.

Begitu juga apa yang dilakukan Els De La Croix kadang membuat kita berdecak kagum. Wanita keturunan Belanda yang lahir di Surabaya 68 tahun ini mengabdikan dirinya untuk membantu dan menolong anak-anak Indonesia yang kurang beruntung. Ibu Els, demikian wanita ini biasa disapa, begitu prihatin dan tergetar hatinya kala melihat nasib anak-anak yang tidak mempunyai kedua orangtua akibat korban tsunami, kebakaran dan musibah lainnya.

Ibu Els dibantu rekannya yang warga Belanda, Kitty mendirikan sebuah panti asuhan di Semarang, Jawa Tengah yang diberi nama Tunas Rajawali. "Hingga kini anak-anak yang ditampung di panti jumlahnya sudah ratusan," kata Ibu Els menerangkan. Panti Asuhan Tunas Rajawali tidak hanya menampung anak-anak saja tetapi juga menyekolahkannya hingga mereka tamat bangku kuliah dan bekerja.

Terheran-heran karena melihat ada desa di kaki Gunung Rinjani yang mengalami krisis air adalah menjadi titik balik Elena Khusnul Rahmawati. "Tidak mungkin desa yang berada di kaki gunung kok mengalami krisis air selama bertahun-tahun," ujar wanita 43 tahun ini melihat kondisi warga Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Dengan meyakinkan, Elena akhirnya mengajak seluruh warga untuk bergotong royong membelah bukit untuk memasang pipa sejauh 25 kilometer. Perjuangan Elena yang menguras tenaga dan bahaya itu memang tidak sia-sia. Kini warga Sajang yang tadinya hanya sebatas mimpi mendapatkan air kini menjadi kenyataan.

Loading...

When autoplay is enabled, a suggested video will automatically play next.

Up next


to add this to Watch Later

Add to

Loading playlists...