Loading...

Chrisye, Gempa Bumi Bantul Yogyakarta 27-05-2006

64,742 views

Loading...

Loading...

Loading...

Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.
Published on Oct 4, 2007

Pagi ini kedua adik saya berangkat ke Bantul dan Jalan Parangtritis untuk menjadi relawan korban bencana gempa Jogja (27 Mei 2006). Sore hari ini, adik saya yang perempuan sudah pulang dengan badan basah kuyup karena harus menerjang hujan dalam perjalanan Bantul-Jogja. Saya sungguh kagum dengan semangat para mahasiswa yang memilih untuk tidak pulang ke daerah asalnya namun menjadi sukarelawan korban gempa. Begitu banyak orang masih peduli dengan sesamanya yang sedang tertimpa musibah.

Namun di lain pihak, saya prihatin sekali dengan fenomena-fenomena amoral, amanusiawi dan egoisme sekelompok orang, baik yang diceritakan dari pengalaman adik saya, maupun cerita-cerita dari para korban gempa itu sendiri. Adapun fenomena-fenomena tersebut yaitu :

1. Isu/Kabar Bohong tentang Tsunami
Beberapa saat setelah gempa melanda Jogja. Beberapa orang jahat sengaja melontarkan isu bohong dengan maksud untuk membuat kepanikan sehingga mereka dengan bebas melakukan tindak kejahatan. Banyak teman saya yang kehilangan kendaraan bermotornya karena ditinggal lari ketika beberapa orang meneriakkan isu tsunami yang sudah dekat. Motor-motor yang ditinggal dalam keadaan terkuncipun hilang disambar sekelompok maling.

2. Tabrak Lari
Situasi kepanikan yang luar biasa di jalanan akibat isu bohong tsunami, membuat masing-masing orang mencari selamat. Sekelompok orang nekat mengendarai kendaraan dengan brutal sehingga banyak pejalan kaki yang panik tertabrak dan terlindas. Mereka menjadi korban tabrak lari orang-orang tak bertanggung jawab.

3. Penipuan atas nama bencana
Para penipu menggunakan kesempatan ini untuk mengumpulkan uang atas nama bencana gempa di Jogja baik di jalanan, maupun dari rumah ke rumah di berbagai kota di Indonesia. Uang yang terkumpul tidak akan sampai pada korban bencana, namun digunakan untuk keperluannya pribadi. Oleh karena itu masyarakat kiranya lebih berhati-hati dalam menyumbangkan dana bantuan. Pastikan bahwa pengumpul sumbangan merupakan suatu organisasi dengan identitas yang jelas dan terpercaya.

4. Koruptor
Banyak bantuan keuangan yang sedang mengalir ke Jogja saat ini. Namun jika kita belajar dari pengalaman di Aceh, akan muncul koruptor-koruptor yang siap bermain dengan semua itu. Ketakutan kemunculan koruptor pun sudah diprediksi oleh banyak pihak, maka saya setuju dengan KPK untuk memberikan hukuman seberat-beratnya bagi para koruptor bantuan gempa Jogja.

5. Pencari Popularitas dan Pengobral Janji.
Banyak pihak / negara-negara tetangga saat ini yang menjanjikan bantuan yang sangat banyak berupa uang yang mencapai jutaan dolar, namun sungguh disayangkan jika itu hanyalah sebuah retorika politik untuk mencari popularitas ataupun hal lainnya. Fenomena ini hampir sama seperti pengalaman di Aceh, banyak janji-janji bantuan namun tidak ada kelanjutannya sampai sekarang.

Kita bersama sedang dalam suatu bencana. Menderita bersama, dalam kesusahan yang sama. Tapi rupanya nurani sekelompok orang itu sudah mati, tidak ada lagi moral yang harus dijunjung, tidak ada lagi rasa kemanusiaan untuk menghentikan perbuatan kriminal mereka. Tak ada solidaritas kemanusiaan untuk satu waktu saja. Tak pernah sadar akan arti bencana yang terus melanda kita semua.

Loading...

Advertisement
When autoplay is enabled, a suggested video will automatically play next.

Up next


to add this to Watch Later

Add to

Loading playlists...