Upload

Loading...

28 Mei 2006, Pasca Gempa Bantul Yogyakarta

13,265 views

Loading...

Loading...

Loading...

Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.
Published on Mar 10, 2007

Seorang relawan asing yang ikut membantu penanganan korban gempa bumi di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah (27 mei 2006) dinyatakan menderita gangguan kejiwaan. Ia dirawat di bangsal jiwa RS Dr Sardjito Yogyakarta, bersama 15 korban gempa yang juga mengalami gangguan kejiwaan sejenis.

Dokter Bambang Hasta Yoga SpKJ, Koordinator Lapangan Psikososial dan Psikiatri RS Dr Sardjito menyatakan, relawan yang mengalami gangguan jiwa itu adalah seorang laki-laki, usia 40 tahun, dengan profesi dokter umum. Ia datang ke Yogya dalam keadaan sehat secara fisik dan psikis. Bambang tidak menyebutkan asal negara relawan.

"Tapi, berdasarkan pemeriksaan kami, ia diperkirakan tidak kuat menghadapi kenyataan banyaknya korban dan kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh gempa. Itu mengakibatkan jiwanya terguncang, dan cenderung menyerang orang lain," kata Bambang, didampingi wakilnya dr Carla SpKJ.

Untuk itu, Bambang menegaskan, proses pemeriksaan (screening) relawan lokal maupun asing, yang akan ikut membantu penanganan korban bencana di DIY-Jateng harus diperketat. Sebab, bencana yang terjadi kali ini tergolong dahsyat, sehingga kesiapan fisik dan psikis prima, ditunjang dengan daya tahan yang kuat menjadi syarat mutlak bagi para relawan.

Bambang menyatakan, perhatian terhadap kondisi kejiwaan korban gempa memang serius. Sebab, berdasarkan pemeriksaan menyeluruh atas 853 pasien korban gempa di RS Dr Sardjito, ditemukan 53 pasien dewasa yang memerlukan intervensi psikiatri meski belum perlu dirawat di bangsal jiwa.

Lima belas pasien dewasa dinyatakan mengalami gangguan kejiwaan berat (psikotik) dan harus dirawat di bangsal jiwa bersama sang relawan, dan 38 pasien anak di bangsal bedah anak dinyatakan mengalami trauma fisik dengan stres akut ringan.

"Yang belum perlu dirawat di bangsal jiwa rata-rata mengalami gangguan susah tidur (imsomnia) dan reaksi stres akut pascagempa. Mereka harus terus didampingi secara intensif dari tim psikiatri dan psikologi kami," ujar Bambang.

Comments are disabled for this video.
Advertisement
When autoplay is enabled, a suggested video will automatically play next.

Up next


to add this to Watch Later

Add to

Loading playlists...