Loading...

Deklarasi salafiah.mp4 abuya mukhtadi banten putra abuya demyati banten

57,875 views

Loading...

Loading...

Loading...

Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.
Published on Apr 19, 2012

Serang,FESBUK BANTEN News
(19/5) - Ketua Umum Majelis
Pesantren Salafiyah (MPS) KH
Matin Syaqowi mengatakan,
terbentuknya MPS didasari rasa
keprihatinan atas kondisi
pesantren salafiyah tidak
mendapat perhatian dari
pemerintah. Padahal pesantren
salafiyah berdiri sebelum
Republik Indonesia berdiri.
Hal tersebut dikatakan
Matin,saat memberikan
sambutan acara deklarasi MPS di
Gedung Olahraga (GOR) Maulana
Yusuf Alun-alun Timur
Kota Serang, Rabu (18/5)
kemarin.
"Sebelum republik ini berdiri
pesantren salafiyah telah ada.
Bahkan saat perjuangan
kemerdekaan para kiai dan
santri yang berada di garis
terdepan dalam menghadapi
penjajah," kata Matin.
Tapi kemudian, lanjutnya, pasca
kemerdekaan, pesantren
salafiyah tidak diperhatikan.
Oleh karena itu, MPS harus tetap
bertahan untuk
memperjuangkan hak-haknya.
Menurut Matin, pesantren
salafiyah memiliki hak yang
sama untuk memperoleh
anggaran pemerintah. Selama ini
pemerintah masih melakukan
diskriminasi terhadap pesantren
salafiyah.
"Sampai saat ini belum ada
keperpihakan anggaran baik
APBN maupun APBD terhadap
pesantren salafiyah. Pemerintah
masih menganggap pesantren
salafiyah sebagai agama bukan
sebagai lembaga pendidikan,"
katanya.
Ia menambahkan, para santri
pesantren salafiyah tidak boleh
minder apalagi putus asa
dengan kondisi yang ada, karena
pesantren salafiyah telah
tercatat banyak melahirkan
sejumlah tokoh besar seperti
Brigjen KH Syamun dan Syekh
Nawawi Al-Bantani.
"Pesantren salafiyah harus tetap
dijaga, dilestarikan dan dijaga
sebagai lembaga pendidikan
yang memiliki karakter
khusus,"ujarnya,seraya
menegaskan, pesantren
salafiyah merupakan aset di
bidang pendidikan.
Selain itu,Matin juga
menerangkan, banyak hal yang
bisa diambil dari keberadaan
pesantren salafiyah, seperti
membangun karakter dan
kemandirian anak didik mulai
dari kemampuan akademisnya,
kultur pendidikannya, perhatian
terhadap kesehariannya,
maupun sisi positif lainnya.
Sedangkan,Abuya KH Muhtadi
Dimyati dalam tausiahnya
menghimbau seluruh santri
pesantren salafiyah untuk terus
memperdalam ilmunya ditengah
perkembangan zaman yang
semakin modern. Menurut
Abuya, ilmu diperoleh bukan
karena pesantrennya tradisional
atau modern, melainkan karena
kesungguhan hati dan
keihklasan seseorang dalam
menimba ilmu.
Sementara,dalam deklarasi
tersebut,hadir sekitar dua ribu
santri dan kyai se-Provinsi
Banten mendeklarasikan
terbentuknya Majelis Pesantren
Salafiyah (MPS). Dalam
deklarasinya, para santri dan
kyai melakukan doa bersama
(istigotsah) untuk keselamatan
bangsa dan negara dari
ancaman bencana dan
marabahaya serta untuk
meningkatkan persatuan dan
silaturahmi.
Sejumlah kiai yang
mendeklarasikan MPS itu yakni
Abuya KH Muhtadi Dimyati, KH.
Obing Surochman, KH.Tb. Wardi,
KH. Umaidi, KH.Ariman Anwar,
KH. Hudri, KH. Kurtubi Asnawi,
KH. Thohir Thoha, KH. Muhamad
Nasir, KH.Shobri Man'us, KH.
As'ayari Amri, KH Jamaludin.
Sebagai Ketua Umum MPS yakni
KH Matin Syarkowi, dan
Sekretaris MPS KH Wawang
Munawar Halili

  • Category

  • License

    • Standard YouTube License

Loading...

When autoplay is enabled, a suggested video will automatically play next.

Up next


to add this to Watch Later

Add to

Loading playlists...