Alert icon
We're changing our privacy policy. This stuff matters.  Learn more  Dismiss

Islam Radikal mengancam

Loading...

Sign in or sign up now!
Alert icon
Upgrade to the latest Flash Player for improved playback performance. Upgrade now or more info.
29,233
Loading...
Alert icon
Sign in or sign up now!
Alert icon

Uploaded by on Jun 2, 2008

Ketika perbedaan diselesaikan dengan kekerasan dan polisi tidak bertindak tegas terhadap aktornya, maka demokrasi sebenarnya sudah mati. Kekerasan akan berbalas kekerasan. Korban akan berjatuhan, luka atau tewas. Dan, masyarakat akhirnya ada dalam kekacauan. Kekacauan adalah pertanda demokrasi sudah mati.

Demokrasi kita tentu belum mati. Ia justru baru hidup setelah lama mati di masa rezim Orde Baru lebih 30 tahun. Tapi tanda-tanda kematian demokrasi kita yang baru saja hidup itu mulai nyata. Tindak kekerasan yang dilakukan segerombolan orang dengan berteriak mengagungkan nama Tuhan ("Allahu Akbar") terhadap sejumlah orang yang tengah mengekspresikan pendapat dan sikapnya di Lapangan Monas, Jakarta, adalah contohnya.

Gerombolan penyerang itu memakai baju berwarna putih (berarti suci). Pada sebagian anggota gerombolan itu tertera lambang dan nama sebuah organisasi kemasyarakatan Islam. FPI, begitu tertulis: Front Pembela Islam. Ini bukan tindak kekerasan kali pertama yang dilakukan organisasi itu. Hari-hari dan waktu-waktu sebelumnya, anggota organisasi ini juga gemar melakukan tindak kekerasan terhadap fasilitas umum dan milik pribadi dengan dalih memberantas judi dan maksiat.

Di Monas kemarin, selain sebuah mobil yang mereka rusak, puluhan orang mereka hajar hingga memar dan berdarah di wajah. Sebagian terpaksa harus dirawat di rumah sakit. Para korban ini adalah mereka yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Anggota Aliansi berkumpul di Monas untuk melanjutkan perjalanan ke Bundaran Hotel Indonesia guna mengadakan apel peringatan hari lahir Pancasila, 1 Juni.

Masih belum jelas kenapa FPI menyerang. Besar dugaan karena sikap Aliansi yang hendak membela dan mempertahankan keberadaan Ahmadiyah, yang sejak 1925 sudah eksis di Indonesia. Beberapa hari sebelumnya di beberapa media memang Aliansi memasang iklan dengan judul "Mari Pertahankan Indonesia Kita!" Ditanda-tangani sekitar 300 tokoh dan aktivis dari berbagai kalangan, isi iklan itu antara lain menyinggung soal penganut Ahmadiyah yang mengalami teror oleh sekelompok orang.

FPI bersama organisasi kemasyarakatan Islam lainnya, seperti Majelis Mujahiddin dan Hizbut Tahrir bersikap berbeda dengan Aliansi dalam memandang Ahmadiyah. FPI mengikuti fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak kehadiran Ahmadiyah. Tindak kekerasan bahkan sempat mereka timpakan pada sebagian penganut Ahmadiyah. Sekarang mereka menyerang orang yang membela Ahmadiyah.

Benar-benar mencekam dan menakutkan. Para pembela Ahmadiyah, keragaman, dan Pancasila kini bisa merasakan secara jelas dan langsung betapa derita yang kini dialami pengikut Ahmadiyah: kekerasan dan ancaman. Sekitar 300 orang yang ikut menerakan namanya dalam iklan Aliansi di media cetak itu pun sekarang merasa terancam dan bisa menjadi sasaran FPI dan kelompok Islam radikal lain.

Pengamat dan akademisi di Indonesia sebaiknya mengubah tesis. Tidak benar Islam radikal di Indonesia bukan ancaman. Argumen yang menyatakan mereka hanya minoritas, jumlahnya kecil, dan tidak punya akses politik formal -- dan mayoritas Islam di Indonesia adalah moderat dan itu ditandai dengan kehadiran Muhammadiyah dan NU yang beranggotakan jutaan -- tak bisa lagi dipertahankan. Kekerasan yang mereka lakukan dan polisi yang tidak berkemampuan bertindak tegas menjadi bukti nyata bahwa gerakan Islam radikal sudah sampai pada tingkat membahayakan kehidupan bersama dan demokrasi.

Islam radikal tidak mengenal penyelesaian perbedaan secara damai dan dialogis yang justru menjadi esensi demokrasi. Mereka memanipulasi ajaran Islam yang begitu murni dan anggun serta kaya dengan tradisi dan sejarah pemikiran yang berisikan rahmatan lil-alamin. Di tangan kaum radikal, Islam tampil cemar, penuh darah dan kekerasan, serta mendiskriminasikan kaum perempuan.

Indonesia bukan negara Islam, apalagi negara Islam radikal. Indonesia adalah negara republik. Didirikan hasil perjuangan banyak suku, ras, dan agama, republik ini juga berdiri di atas hukum. Polisi harus menangkap dan memproses kaum radikal yang mengobrak-abrik prinsip demokrasi ini, lalu ajukan ke jaksa untuk dibuatkan tuntutan agar cepat diadili dan dijatuhi hukuman.

Category:

News & Politics

Tags:

License:

Standard YouTube License

  • likes, 5 dislikes

Link to this comment:

Share to:

Top Comments

  • F P I berak mencret !!!!

  • FPI = Front Perusak Indonesia, yg beraninya keroyokan, bawa senjata (kayu, bambu), yg beraninya dengan yg tua, wanita. Dan yg parah lagi, yg mengatasnamakan agama, tapi perilaku binatang !!!

see all

All Comments (154)

Sign In or Sign Up now to post a comment!
  • muslim brutal, wkwkwkwkwk,

  • @bulatbugil saya lebih malu kalau negara muslim terbesar didunia ini ada seks bebas, narkoba & korupsi dimana2... ITU JAUH LEBIH MERUSAK

  • @kus2ganteng liat sejarah negara2 Islam, yg judge Islam berdasar berita2 TV...

  • umat Islam dibantai tapi kalian diam saja malah justru menghina mujahidin, media masa banyak bohong

    umat ISLAM DIBANTAI

    /watch?v=KzoGMw0T46c

    /watch?v=bOeDgA9kuq8

  • pengikut FPI mau aja dibohongin ma tuh habib... padahal klo dirumah tu habib senengnya nonton bokep.. wkwkwkwkwk...

  • FPI = FRONT PENGHANCUR INDONESIA

  • @MrMufasa33 memang pernah Rasulullah menyerang? setahu saya mereka hanya bertahan akan apa yang telah seharusnya menjadi hak mereka.

    Waktu Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, disitu ada 3 agama, Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun saya belum pernah membaca bahwa Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam mengusir mereka, yang saya tahu Rasulullah malah menyuruh hidup berdampingan dan harmonis.

    Bagaimana anda menyikapi ini dengan membandingkan apa yang dilakukan FPI ?

  • Rasulullah SAW hanya berperang apabila "diserang" !

    Muslim = Mengamalkan apa yang dilakukan Rasulullah SAW

    FPI = menyerang tanpa ada penyerangan

    FPI tidak mengamalkan apa yang dilakukan Rasulullah SAW

    jadi,

    tidak Muslim = tidak mengamalkan apa yang dilakukan Rasulullah SAW

    FPI = Tidak Muslim

    :D

  • itulah kalau al-qur'an "diberhalakan" bukan diamalkan jadi mereka telah dikerdilkan oleh pemikiran sempit mereka sendiri. merasa telah mewakili semua umat islam, bedebah! saya sebagai muslim juga sangat benci dengan mereka, FPI=FRONT PEMBELA ISLAM ? saya tak pernah merasa dibela oleh mereka, malah merasa mereka adalah musuh, atau mereka merasa membela tuhan ? tuhan itu maha atas segalanya, kalau diapakan pun ALLAH tetap sempurna, INDONESIA

  • Hmmmmmmmm..., pantas saja mereka dicaci dan dimaki.

Loading...

Alert icon
0 / 00Unsaved Playlist Return to active list
    1. Your queue is empty. Add videos to your queue using this button:
      or sign in to load a different list.
    Loading...Loading...Saving...
    • Clear all videos from this list
    • Learn more