Upload

Loading icon Loading...

This video is unavailable.

API PURWODADI

Sign in to YouTube

Sign in with your Google Account (YouTube, Google+, Gmail, Orkut, Picasa, or Chrome) to like sri yanto's video.

Sign in to YouTube

Sign in with your Google Account (YouTube, Google+, Gmail, Orkut, Picasa, or Chrome) to dislike sri yanto's video.

Sign in to YouTube

Sign in with your Google Account (YouTube, Google+, Gmail, Orkut, Picasa, or Chrome) to add sri yanto's video to your playlist.

Published on Jul 25, 2012

Jika kita berada di Kabupaten Grobogan, maka kita tidak akan melupakan suatu objek wisata terkenal, yaitu Sumber Api Ababi "Mrapen" di Desa Manggar Mas Kec. Godong Kab. Grobogan. Di tempat ini terdapat semburan api yang keluar dari perut bumi dan sampai saat ini semburan api belum mati, oleh karena masyarakat menamakan :Api Abadi: . Dan baru baru ini di desa Karanganyar Kec. Purwodadi Kab. Grobogan , dikejutkan munculnya gas yang menyembur dari perut bumi di halaman komplek Yayasan Panti Asuhan Yatama Center, Desa Karanganyar Kecamatan Purwodadi. Terlebih setelah disulut dengan korek, ternyata menyala api setinggi hampir tiga meter.
Hingga kini , api tersebut masih menyala dan menjadi tontonan warga. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, oleh kepolisian setempat, di sekitar area semburan, dipasang police line. Rabu (25/7-2012) petugas dari Balai ESDM Provinsi Jateng Wilayah Kendeng Muria di Pati bersama Disperindagtamben Kabupaten Grobogan melakukan identifikasi awal atas semburan gas yang sesekali diikuti letupan keluarnya lumpur dari dalam tanah.
"Hasil penelitian awal menggunakan alat gas detektor, gas yang muncul mengandung H2S (asam belerang) 50 ppm (parts per million), Co (karbon monoksida) 200 ppm dan O2 (oksigen) 20,54 ppm. Gas yang keluar ini termasuk golongan gas rawa atau gas dangkal yang terbentuk dari pembusukan organik dari dalam tanah. Beruntung gas tersebut menyembur di area yang terbuka atau lapang. Kalau semburan itu berada di area tertutup, maka bisa berbahaya karena dapat mengakibatkan sesak nafas," kata Ketua Balai ESDM Provinsi Jateng Wilayah Kendeng Muria di Pati, Imam Nugraha kepada KRjogja.com di sela-sela melakukan pengukuran di lokasi kejadian. Gas tersebut muncul bermula dari penggalian sumur bor yang dilakukan pekerja di sebelah gedung Yayasan Panti Asuhan Yatama Center. Saat pengeboran mencapai kedalaman 38 meter, lima tenaga penggali sumur tersebut mencium bau gas dari lubang sumur. Bau gas itu diikuti hawa panas dan letupan yang juga mengeluarkan lumpur dari dalam tanah. (sry)

Loading icon Loading...

Loading icon Loading...

Loading icon Loading...

Loading icon Loading...

Ratings have been disabled for this video.
Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.

Loading icon Loading...

Loading...
Working...
to add this to Watch Later

Add to