Alert icon
We're changing our privacy policy. This stuff matters.  Learn more  Dismiss

Smile, optimisme pasca Gempa Bantul Yogyakarta

Loading...

Sign in or sign up now!
4,065
Loading...
Alert icon
Sign in or sign up now!
Alert icon

Uploaded by on Mar 6, 2007

Jika anda berkunjung ke wilayah Bantul dan sekitarnya pada minggu ke-3 pasca Gempa, barangkali akan timbul sedikit rasa lega, senang dan bangga. Bagaimana tidak, warga yang dilanda bencana gempa bumi hebat pada Sabtu pagi (27/5/2006) ini tampak mulai bangkit. Pasar-pasar mulai ramai, puing-puing mulai dibersihkan, dan sawah-sawah pun kembali disiangi.

Bagi sebagian masyarakat luar Bantul, banyaknya spanduk yang berisi ajakan untuk tidak terus-terusan bersedih dan meratap mungkin dianggap sebagai salah satu sumbu penyulut semangat masyarakat. Memang ada yang merasa mendapat dukungan dari tulisan-tulisan di spanduk itu, seperti Clara dan keluarga yang berdomisili di wilayah Kasongan. Namun bagi sebagian warga setempat yang lain, apalagi mereka yang tidak begitu memperhatikan tulisan tersebut mengaku bahwa mereka bangkit karena memang ingin bangkit. Mereka tidak mau terus bersedih dan melamun melihat puing-puing rumah mereka. "Kalau dirumah terus malah ngenes, Mbak, melihat rumah yang dibangun dengan susah payah sekarang hancur seperti itu." Itulah sedikit ungkapan dari Ningsih, seorang ibu yang mulai bangkit dan turun ke sawah tetangga dengan upah Rp 17.500,- per hari. Sambil menyiangi padi yang ditumbuhi banyak rumput liar, ia bercerita bagaimana perasaannya yang sampai saat ini masih ketakutan bila ada sedikit getaran saja. Namun, seperti semangatnya menyiangi padi untuk menyambung hidupnya, ia pun menerima peristiwa ini sebagai sebuah cobaan. "Kathah rencange kok, malah kathah ingkang luwih parah," imbuhnya. Banyak temannya kok, malah banyak yang lebih parah.

Hal serupa juga dilakukan oleh Sihono. Setelah dua minggu bergotong royong, bergantian membenahi rumah bersama dengan bapak-bapak yang lain dilingkungannya, ia pun terjun ke sawahnya. Ia mulai mengalirkan air ke lahan padinya yang belum sempat disiangi karena peristiwa gempa.

Jika Ningsih dan Sihono mulai bangkit dengan kembali beraktifitas di sawah yang mereka akui memberi sedikit hiburan, Wakidah (60-an) mulai berjualan untuk menghilangkan kesedihannya. Ia menggelar dagangannya yang berupa pecel dan dawet di pinggir jalan Sembungan, Sendang Semanggi, Bangunjiwo, Kasihan - Bantul. "Biasanya nggak jualan di sini, tapi di dalam sana, dan jualannya juga macam-macam, ada lotek dan lauk pauk yang lain. Tapi karena kondisi seperti ini, semua rumah roboh, ya disini saja dan mulai dari nol lagi," ceritanya sambil kadang matanya berkaca-kaca bila menyinggung peristiwa Sabtu pagi 27 Mei 2006.

Category:

People & Blogs

Tags:

License:

Standard YouTube License

  • likes, 1 dislikes

Link to this comment:

Share to:
see all

All Comments (7)

Sign In or Sign Up now to post a comment!
  • Ini Baru INDONESIAKU...YOGYAKARTAKU

    Semangat berjuang dari NOL memang tidak mudah,kadang juga sebaliknya.

    Akhiri tangismu dan bangkitlah untuk berjuang kembali membangun YOGYAKARTA seutuhnya.

  • jangan patah semangat... bisa di contoh kasus nagasaki dan hiroshima, sekarang orang orang itu hidup lebih mapan.

    Kapan kita memulai kualitas hidup yang lebih baik? semuanya tergantung dengan diri sendiri.

  • semangattttttttttttttttttt jogya!!!!!!!!

    jdkanlah pelajaran ini sebgai pelajaran!!!!!!!!!!!

  • subhanalloh,semoga para korban ditabahkan hatinya dan kita semua semakin ditinggikan ketauhidan kita,amin

  • ini pertanda TUHAN sayang dengan indonesia,maka berusahalah sebaik mungkin menjalankan perintahNYA,dan jauhi LaranganNYA

  • bencana demi bencana slalu melnda negeri kita....pertanda apakah ini...?

  • Earthquake.

Loading...

0 / 00Unsaved Playlist Return to active list
    1. Your queue is empty. Add videos to your queue using this button:
      or sign in to load a different list.
    Loading...Loading...Saving...
    • Clear all videos from this list
    • Learn more