Jika anda berkunjung ke wilayah Bantul dan sekitarnya pada minggu ke-3 pasca Gempa, barangkali akan timbul sedikit rasa lega, senang dan bangga. Bagaimana tidak, warga yang dilanda bencana gempa bumi hebat pada Sabtu pagi (27/5/2006) ini tampak mulai bangkit. Pasar-pasar mulai ramai, puing-puing mulai dibersihkan, dan sawah-sawah pun kembali disiangi.
Bagi sebagian masyarakat luar Bantul, banyaknya spanduk yang berisi ajakan untuk tidak terus-terusan bersedih dan meratap mungkin dianggap sebagai salah satu sumbu penyulut semangat masyarakat. Memang ada yang merasa mendapat dukungan dari tulisan-tulisan di spanduk itu, seperti Clara dan keluarga yang berdomisili di wilayah Kasongan. Namun bagi sebagian warga setempat yang lain, apalagi mereka yang tidak begitu memperhatikan tulisan tersebut mengaku bahwa mereka bangkit karena memang ingin bangkit. Mereka tidak mau terus bersedih dan melamun melihat puing-puing rumah mereka. "Kalau dirumah terus malah ngenes, Mbak, melihat rumah yang dibangun dengan susah payah sekarang hancur seperti itu." Itulah sedikit ungkapan dari Ningsih, seorang ibu yang mulai bangkit dan turun ke sawah tetangga dengan upah Rp 17.500,- per hari. Sambil menyiangi padi yang ditumbuhi banyak rumput liar, ia bercerita bagaimana perasaannya yang sampai saat ini masih ketakutan bila ada sedikit getaran saja. Namun, seperti semangatnya menyiangi padi untuk menyambung hidupnya, ia pun menerima peristiwa ini sebagai sebuah cobaan. "Kathah rencange kok, malah kathah ingkang luwih parah," imbuhnya. Banyak temannya kok, malah banyak yang lebih parah.
Hal serupa juga dilakukan oleh Sihono. Setelah dua minggu bergotong royong, bergantian membenahi rumah bersama dengan bapak-bapak yang lain dilingkungannya, ia pun terjun ke sawahnya. Ia mulai mengalirkan air ke lahan padinya yang belum sempat disiangi karena peristiwa gempa.
Jika Ningsih dan Sihono mulai bangkit dengan kembali beraktifitas di sawah yang mereka akui memberi sedikit hiburan, Wakidah (60-an) mulai berjualan untuk menghilangkan kesedihannya. Ia menggelar dagangannya yang berupa pecel dan dawet di pinggir jalan Sembungan, Sendang Semanggi, Bangunjiwo, Kasihan - Bantul. "Biasanya nggak jualan di sini, tapi di dalam sana, dan jualannya juga macam-macam, ada lotek dan lauk pauk yang lain. Tapi karena kondisi seperti ini, semua rumah roboh, ya disini saja dan mulai dari nol lagi," ceritanya sambil kadang matanya berkaca-kaca bila menyinggung peristiwa Sabtu pagi 27 Mei 2006.
Ini Baru INDONESIAKU...YOGYAKARTAKU
Semangat berjuang dari NOL memang tidak mudah,kadang juga sebaliknya.
Akhiri tangismu dan bangkitlah untuk berjuang kembali membangun YOGYAKARTA seutuhnya.
3Marcha 3 years ago
jangan patah semangat... bisa di contoh kasus nagasaki dan hiroshima, sekarang orang orang itu hidup lebih mapan.
Kapan kita memulai kualitas hidup yang lebih baik? semuanya tergantung dengan diri sendiri.
MIMPIJ 3 years ago
semangattttttttttttttttttt jogya!!!!!!!!
jdkanlah pelajaran ini sebgai pelajaran!!!!!!!!!!!
ririnbawel 3 years ago
subhanalloh,semoga para korban ditabahkan hatinya dan kita semua semakin ditinggikan ketauhidan kita,amin
pendy4057 3 years ago
ini pertanda TUHAN sayang dengan indonesia,maka berusahalah sebaik mungkin menjalankan perintahNYA,dan jauhi LaranganNYA
dikifulita 4 years ago
bencana demi bencana slalu melnda negeri kita....pertanda apakah ini...?
rinaldy72 4 years ago
Earthquake.
KentClark3 4 years ago