Tarian ini bersejarah. Pertama, digali kembali oleh para seniman Kraton Mangkunegara setelah 100 tahun tersimpan dalam naskah dan nyaris terlupakan. Kedua, berangkat dari satu bagian riwayat Surakarta yang dramatis, pertempuran di wilayah Rembang, Jawa Tengah Utara, tahun 1756.
Dengan mengambil tauladan Borobudur, di tingkat kerohanian yang makin tinggi, yang makin jauh dari pamrih jasmani, kita berada dalam tataran "arupadhu" "A-rupa" berarti "tanpa rupa" tak ada bentuk dan warna yang bisa menggiurkan, tak ada pesona dari yang visual.
Dirada Meta seakan membebaskan kita yang ingin menghidupkannya kembali ke dalam berbagai kemungkinan dan tak terbebani. Karena itu yang tertampil justru sebagai upacara duka cita yang syadhu, sedih, dan spiritual. Tarian Kraton Mangkunegara ini dipersembahkan kepada Komunitas Salihara dan merupakan kehormatan yang sangat besar menghadirkan khasanah penting istana ini, untuk memperingati hari Pahlawan 10 November 2008 serta mengenang kelimabelas punggowo baku yang gugur dalam pertempuran di wilayah Rembang tahun 1756.
wah, tarian bedhaya yg ditarikan oleh lelaki. Baru kali ini saya melihat.
good post
butogamo 10 months ago