Mungkin sudah agak basi mengucapkan condolence thd korban gempa. Saya pun bingung mau menyampaikan kemana. Saya yakin bahwa tulisan ini tidak akan terbaca oleh mereka di sana. Sejak 27 Mei 2006 kemarin memang aku menjadi lebih sentimentil thd kondisi hometown-ku Bantul. Ingatanku menelusur kesana kemari dan mencoba mencari sebanyak mungkin informasi ttg gempa Bantul. Meskipun karena gempa itu pula kota-ku tersebut menjadi headline di beberapa worldwide news. Bahkan aku jadi punya satellite image yang komplit ttg Bantul. Why so sentimentil diriku nowadays. Karena Bantul-lah yang membesarkan-ku. Ibuku dan Ayahku semuanya dari Bantul. Maka tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa kerabatku disana ada dalam orde Ribuan. Belum lagi teman TK Bustanul atfal dengan semua civitas akademiknya, SD Bantul 1, SMP 1 Bantul, sebagian teman di SMA 1 Yogyakarta dan Teknik Elektro UGM. Teman Remaja Masjid, terutama dahulu ketika aku masih aktif di JAMASBA. Teman-teman Keluarga Mahasiswa Bantul, dan puluhan pengurus Takmir Masjid yang dalam waktu-waktu terakhir aku masih intensif untuk saling bertemu. Beberapa Tokoh Kepemudaan dan tentunya Para tetangga di Gose dan Babadan yang tak luput juga menjadi korban dari tragedi ini.
Saya bingung mau ngomong apa lagi dalam kondisi 150 Ribu rumah di Bantul roboh dan ratusan saudara-ku yang kukenal menjadi korbannya. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Dahulu aku sangat senang menyampaikan sebuah atsar: "Ajaba lii amril muslim....". Sungguh mengherankan kondisi seorang muslim, dimana dalam kondisi apapun, pahala selalu dalam genggamannya. Apabila dia diberi nikmat dia bersyukur dan itu adalah pahala, ketika diberi musibah dia bersabar dan itu adalah pahala pula buat mereka. Tapi saat ini aku merasa tidak punya nyali untuk menyampaikan itu kepada saudara-2ku disana. Aku bukan korban gempa secara langsung. Beberapa kali aku bertanya kepada Isteriku, apakah kita termasuk orang yang beruntung, tidak ditimpakan gempa itu dihadapan kita? Aku senang dengan sikapnya, dia tidak pernah menjawab terhadap pertanyaan konyolku ini.
Apa yang ada di dalam database informasiku tentang korban gempa akan ku tulis disini. Om Harman (suami Bulik Sholihah) dan Fatwa (fafa) sepupuku, meninggal dengan kondisi rumah hancur. Sungguh sulit bagiku untuk mengucapkan sesuatu kepada Bulik-ku ini. Waris Santosa, kolega Teknik Fisika, juga meninggal, merupakan the only UGM's lecturer who pass away in this tragedy. Semua rumah disamping utara rumahku dikabarkan roboh. Rumah Mas Irwan, Mas Wiji, Pak Sarjiman, Lik Tumijo, Pakde Harto. Juga salah satu teman rondaku, Mas Parjono. Musholla didepan rumahku-pun, yang menyertai sebagian hari-hariku tamat juga riwayat-nya. Rumah-ku yang tampangnya pas-pasan dikabarkan selamat.masih layak huni, saya tidak tahu kondisinya. Saya enggak tahu mau ngomong apa lagi. Apabila bencana menjadikan manusia semakin dekat dengan Tuhannya, maka bencana adalah nikmat besar, bagi orang-orang yang mengetahui.
http://kholid74.multiply.com/journal/item/11/Untuk_Saudaraku_di_Bantul
Don't want to pay for an online dating site? meetyourfling(.Com) krikoria
emydavies28 3 years ago
soo sad !!!
Lustyawan 4 years ago