Gempa bumi hebat yang menghancurkan berbagai sendi kehidupan Jogja telah berlalu. Masyarakat, terutama yang menjadi korban, perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Mereka mulai berbenah, baik secara individu maupun bergotong royong membersihkan reruntuhan bekas bangunan rumah yang diamuk goncangan berkekuatan 5,9 SR tersebut. Sebagian dari mereka bahkan telah kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelum bencana terjadi. Warga Jogja tampaknya tak ingin berlama-lama meratapi bencana yang merupakan cobaan dari Sang Khalik ini.
Berhenti menangis dan mulai berbenah, hal itu pula lah yang dilakukan oleh pasangan tuna netra Agus Prayitno dan istrinya, Sadinem. Meski terpaksa tinggal di tenda biru yang terasa panas di siang hari dan dingin serta bernyamuk di malam hari, mereka tetap tersenyum seiring roda kehidupan yang terus berputar. Agus yang profesi sehari-harinya menjadi tukang pijit panggilan mulai kembali menerima tawaran. Bahkan dari kebangkitan semangatnya untuk tidak berdiam diri ini pula keluarganya beroleh tenda untuk berteduh.
Rumah berukuran 3 x 6 m2 yang ia bangun bersama istri sejak tahun 1981 hancur rata dengan tanah pada peristiwa gempa yang melanda Jogja 27 Mei 2006 lalu. Melihat kondisi rumahnya, banyak orang mengira kalau bapak satu anak yang tidak dapat melihat sejak tahun 1951 ini telah tewas tertimbun bangunan. Agus sendiri terkadang masih tidak percaya bahwa dirinya dapat selamat dari peristiwa itu. Pasalnya ketika gempa itu terjadi, ia masih tidur dikamarnya. Ketika orang mulai berteriak-teriak, ia pun bangun dan tanpa tahu bagaimana cara berjalan, ia telah sampai di depan rumah dengan tanpa luka sedikitpun. Bahkan genteng yang berjatuhan tak ia rasakan. Agus percaya ada tangan yang menuntunnya keluar, sehingga ia selamat.
Kesadaran bahwa ini adalah sebuah cobaan untuk membuat manusia sadar dan mulai hidup dengan adil membuatnya tetap bersemangat. Saat ini ia banyak berdoa dan kembali bangkit untuk menata hidupnya dengan menerima tawaran pijat.
thanks
sondarmo 4 years ago