Alert icon
We're changing our privacy policy. This stuff matters.  Learn more  Dismiss

Papá (Poetry, Indonesian Version)

Loading...

Sign in or sign up now!
3,934
Loading...
Alert icon
Sign in or sign up now!
Alert icon
Ratings have been disabled for this video.

Uploaded by on Oct 30, 2009

Papà

Walau Papà tak ketahui, dalam hati ku masih terukir nama Papà
Memang Papà belum lihat, pada lembaran hidup ku lukiskan wajah Papà
Walau Papà tak sempat mendengar, dalam bais-bais puisi aku bersenandung
Akan cerita kisah bagai dongeng yang telah tertulis pada kitab pengalaman
Biarpun Papà tak berlayar jauh lagi, samudera-samudera besar masih ku layari
Memang Papà tiada sekuat dulu, namun gairah hidup terkibar luas besar
Walau banyak yang telah pergi, tapi Papà sayang bertahan tuk terus berjalan
Walau banyak telah berulang keluhan ku, Papà mengangkat biar tak tenggelam

Masih bagitu banyak saat tersimpan dari masa lalu
Kenangan akan mu Papà sayang kan tiada menua
Semua jemari mu dan tangan kuat mu berkulit coklat tua
Telah dulu sering membelai rambut coklat ku yang tak tersisir
Dalam kesakitan serta kesehatan Papà sayang selalu hadir
Di saat tak hadir, kerinduan ku pada mu Papà sayang
Membuat ku sakit dan demam pun mengarungi tubuh ku
Sekarang pun masih seperti dulu, kadang tersikasa derita

Masih kah Papà sayang ingat masa kita semua bersama?
Ataukah kelelahan perjalanan telah mengahapus waktu?
Tetesan banyak butiran air jernih dari mata anak mu tiada putus
Kenangan skenario tak terhitung berkunjung siang dan malam
Wajah lembut mu yang gagah dan begitu elok di pandang mata
Di masa muda ria mu telah memandang kecantikan Mamà sayang
Keanggunan seorang wanita telah kini kau peluk erat selamanya
Walau Mamà sayang tak lagi dirinya menemani mu bertahun-tahun

Adik nona sayang pernah bercanda pada ku tak lama dulu dalam waktu
Memberi ku tawa berkalimat Aa tana nee, hala təra do mii papa tana
Memang aku macam Papà; dalam hal tertentu, keduanya, kita peluka hati
Kata adik nona, kita tak pernah mengukur cinta, karna kita adalah pencinta
Ada bayangan mu Papà menjaga ladang dari hari ke hari di bawah sinar
Kenangan kulit bahu mu Papà yang terbakar oleh kepanasan terik surya
Dengan wajah mu yang melukiskan pergolakan seluruh perjalan hidup
Entah kemana Papà telah berjalan mengelilingi, menjangkaui, melampaui

Tebalnya kulit kaki Papà teriris banyak garis luka membelah kedua kaki
Kadang berdarah, kadang tertusuk macam duri tajam dari sawah ladang
Otot-otot kuat mu dulu kini makin lemah mengiringi waktu yang terjalani
Garisan banyak cerita pada kening mu menggambari suka duka puluhan tahun
Kini ku dewasa, mengembara jauh dari mu, dari Mamà, semua kakak dan adik
Banyak ria dan tawa menemani, tapi banyak pula duka dan pilu mengunjung ku
Sepenuh hati sekarang aku tahu, Papà sayang, telah kau pikul yang lebih berat
Dengan penuh terimakasih tak terhenti ku panjatkan pada mu, Papà sayang ku

Bola mata coklat muda berlingkaran biru muda yang menghiasi wajah mu Papà
Semakin tak jelas melihat dengan detail kecil untuk menulisi ku surat bagai dulu
Namun walau sejenak, walau sekalimat, walau tak tiap hari, Papà sayang menulis
Tiap kali ku terima pesan tulisan mu Papà, tak lupa Papà memanggil ku na wəni
Banyak waktu sejak kecil aku di panggil mu sebagai adik perempuan, selain anak
Terkadang kami anak perempuan mu terpanggil sebagai Mamà oleh mu Papà sayang
Pernah ku tanya mengapa, jawaban mu, karna anak perempuan, semua wanita
Haruslah di hormati dan di sayangi sebagaimana seorang Mamà, seorang saudari

Tidak hanya dalam sejenak ku berhenti dalam waktu mengingat diri mu, Papà
Bukan hanya sekedar ku ingin terpeluk oleh kehangatan kasih dan perhatian mu
Rindu ku menemani mu bekerja di kebun sirih menanam macam ubi dan pisang
Kedua tangan ku tiada sekecil dulu yang tak mampu mengenggam buah mangga
Bahu ku kini besar tuk memikul batang kayu yang dulu hanya ku pikul ujungnya
Papà, kadang ku melihat mu sendirian dalam banyak mimpi ku di gulita malam
Telah ku menangis banyak kali dalam tidur ku di tengah kegelapan malam sepi
Kesunyian tanpa diri mu Papà kini menjadi hantu ku yang terslubung dalam jiwa

Aku sering memanggil mu Papà dari lintas kejauhan, dalam suara tangisan pilu
Selalu ku dengar doa mu Papà, dalam kebahagiaan teriring harapan baik mu
Diri ku jauh tak terlihat bayang, tapi nama ku dan nama anak-anak ku terucap
Dalam renungan dan harapan hidup mu, Papà, aku dan semua anak terdoakan
Di masa lampau tiap malam, doa termulia mu Papà dan Mamà terpanjakan
Menidurkan kami dalam kedamaian hati dan kenyamanan tubuh selagi mimpi
Selalu ku ingat bahwa Tuhan terlihat dan hidup dalam dunia ku ada dua
Selama hidup, Papà dan Mamà aku memanggil dengan tituler Deo Rai Wawa

© Francesca Von Reinhaart 2009

This poem was recited on Suara Indonesia radio show on Bay FM 99.9 on Wednesday, 23rd, September '09

Link to this comment:

Share to:
see all

All Comments (1)

Sign In or Sign Up now to post a comment!
  • Salam untuk Papa, Ma Hari yang baik hati.

Loading...
0 / 00Unsaved Playlist Return to active list
    1. Your queue is empty. Add videos to your queue using this button:
      or sign in to load a different list.
    Loading...Loading...Saving...
    • Clear all videos from this list
    • Learn more