Uploaded by FrancescaVR on Oct 30, 2009
Papà
Walau Papà tak ketahui, dalam hati ku masih terukir nama Papà
Memang Papà belum lihat, pada lembaran hidup ku lukiskan wajah Papà
Walau Papà tak sempat mendengar, dalam bais-bais puisi aku bersenandung
Akan cerita kisah bagai dongeng yang telah tertulis pada kitab pengalaman
Biarpun Papà tak berlayar jauh lagi, samudera-samudera besar masih ku layari
Memang Papà tiada sekuat dulu, namun gairah hidup terkibar luas besar
Walau banyak yang telah pergi, tapi Papà sayang bertahan tuk terus berjalan
Walau banyak telah berulang keluhan ku, Papà mengangkat biar tak tenggelam
Masih bagitu banyak saat tersimpan dari masa lalu
Kenangan akan mu Papà sayang kan tiada menua
Semua jemari mu dan tangan kuat mu berkulit coklat tua
Telah dulu sering membelai rambut coklat ku yang tak tersisir
Dalam kesakitan serta kesehatan Papà sayang selalu hadir
Di saat tak hadir, kerinduan ku pada mu Papà sayang
Membuat ku sakit dan demam pun mengarungi tubuh ku
Sekarang pun masih seperti dulu, kadang tersikasa derita
Masih kah Papà sayang ingat masa kita semua bersama?
Ataukah kelelahan perjalanan telah mengahapus waktu?
Tetesan banyak butiran air jernih dari mata anak mu tiada putus
Kenangan skenario tak terhitung berkunjung siang dan malam
Wajah lembut mu yang gagah dan begitu elok di pandang mata
Di masa muda ria mu telah memandang kecantikan Mamà sayang
Keanggunan seorang wanita telah kini kau peluk erat selamanya
Walau Mamà sayang tak lagi dirinya menemani mu bertahun-tahun
Adik nona sayang pernah bercanda pada ku tak lama dulu dalam waktu
Memberi ku tawa berkalimat Aa tana nee, hala təra do mii papa tana
Memang aku macam Papà; dalam hal tertentu, keduanya, kita peluka hati
Kata adik nona, kita tak pernah mengukur cinta, karna kita adalah pencinta
Ada bayangan mu Papà menjaga ladang dari hari ke hari di bawah sinar
Kenangan kulit bahu mu Papà yang terbakar oleh kepanasan terik surya
Dengan wajah mu yang melukiskan pergolakan seluruh perjalan hidup
Entah kemana Papà telah berjalan mengelilingi, menjangkaui, melampaui
Tebalnya kulit kaki Papà teriris banyak garis luka membelah kedua kaki
Kadang berdarah, kadang tertusuk macam duri tajam dari sawah ladang
Otot-otot kuat mu dulu kini makin lemah mengiringi waktu yang terjalani
Garisan banyak cerita pada kening mu menggambari suka duka puluhan tahun
Kini ku dewasa, mengembara jauh dari mu, dari Mamà, semua kakak dan adik
Banyak ria dan tawa menemani, tapi banyak pula duka dan pilu mengunjung ku
Sepenuh hati sekarang aku tahu, Papà sayang, telah kau pikul yang lebih berat
Dengan penuh terimakasih tak terhenti ku panjatkan pada mu, Papà sayang ku
Bola mata coklat muda berlingkaran biru muda yang menghiasi wajah mu Papà
Semakin tak jelas melihat dengan detail kecil untuk menulisi ku surat bagai dulu
Namun walau sejenak, walau sekalimat, walau tak tiap hari, Papà sayang menulis
Tiap kali ku terima pesan tulisan mu Papà, tak lupa Papà memanggil ku na wəni
Banyak waktu sejak kecil aku di panggil mu sebagai adik perempuan, selain anak
Terkadang kami anak perempuan mu terpanggil sebagai Mamà oleh mu Papà sayang
Pernah ku tanya mengapa, jawaban mu, karna anak perempuan, semua wanita
Haruslah di hormati dan di sayangi sebagaimana seorang Mamà, seorang saudari
Tidak hanya dalam sejenak ku berhenti dalam waktu mengingat diri mu, Papà
Bukan hanya sekedar ku ingin terpeluk oleh kehangatan kasih dan perhatian mu
Rindu ku menemani mu bekerja di kebun sirih menanam macam ubi dan pisang
Kedua tangan ku tiada sekecil dulu yang tak mampu mengenggam buah mangga
Bahu ku kini besar tuk memikul batang kayu yang dulu hanya ku pikul ujungnya
Papà, kadang ku melihat mu sendirian dalam banyak mimpi ku di gulita malam
Telah ku menangis banyak kali dalam tidur ku di tengah kegelapan malam sepi
Kesunyian tanpa diri mu Papà kini menjadi hantu ku yang terslubung dalam jiwa
Aku sering memanggil mu Papà dari lintas kejauhan, dalam suara tangisan pilu
Selalu ku dengar doa mu Papà, dalam kebahagiaan teriring harapan baik mu
Diri ku jauh tak terlihat bayang, tapi nama ku dan nama anak-anak ku terucap
Dalam renungan dan harapan hidup mu, Papà, aku dan semua anak terdoakan
Di masa lampau tiap malam, doa termulia mu Papà dan Mamà terpanjakan
Menidurkan kami dalam kedamaian hati dan kenyamanan tubuh selagi mimpi
Selalu ku ingat bahwa Tuhan terlihat dan hidup dalam dunia ku ada dua
Selama hidup, Papà dan Mamà aku memanggil dengan tituler Deo Rai Wawa
© Francesca Von Reinhaart 2009
This poem was recited on Suara Indonesia radio show on Bay FM 99.9 on Wednesday, 23rd, September '09
Category:
Tags:
License:
Standard YouTube License
Link to this comment:
6:46Farasha, Belly Dance Performance in Tokyoby chatbox101218,717 views
4:54Jangan Lelah Bekerja di ladang Tuhanby kehidupanable2,374 views
4:36Kau Yang Ku Sayangby baliselalu109,536 views
8:48GAIRAH PENGANTIN 5by nurroziqin165,430 views
9:59Gairah Terlarang #1 ►★★★by Gentax21256,463 views
10:01AFFAIR (Permainan cinta Yang Mematikan) Part 2by CintaMovie151,024 views
1:25Renungan | Mutiara Hatiby KataMutiara41,754 views
9:50Cinta terlarang Part 2by MizzPinkstudioMovie26,282 views
2:56Komedi Tengah Malam - Telanjur Basah #1by organ1xxx419,620 views
3:07Broery Marantika : Mimpi Di Siang Hari (HQ Audio)by xBadoMx6,835 views
0:22Ghost caught on tapeby stevezur66,168,247 views
4:58Komedi Tengah Malam - Telanjur Basah #3by organ1xxx807,520 views
8:15HIPNOTIS | KLINIK HIPNOTERAPI JAKARTA - WWW.DOD...by saripun22,227 views
4:50Malam Pertama (First Wedding Night) by Chrisyeby guusebumps223,507 views
3:12gairah pengantin 1by nurroziqin849,207 views
2:56JOICE PUPELLA & RIDWAN HAYAT RPMJ BAND Pisang B...by Donraphael1988 views
7:40Gairah Interstudi part 1by everglow8121,382 views
8:11Lewat Tengah Malam 6by balinesecrew18,766 views
6:14Nafsu Liar - bag.2 (dewasa)by bursafilm3,881,643 views
9:40Papà (Poetry, English Version)by FrancescaVR449 views
- Loading more suggestions...
Salam untuk Papa, Ma Hari yang baik hati.
buditrikorayanto 8 months ago