Metoda Bedeng ( Open Windrows) Bukan Pilihan Tepat Pengolahan Sampah Organik di Kota

Loading...

Sign in or sign up now!
Alert icon
Upgrade to the latest Flash Player for improved playback performance. Upgrade now or more info.
323 views
Loading...
Alert icon
Sign in or sign up now!
Alert icon

Uploaded by on Dec 20, 2010

Persepsi negatif atau kurang mendukung dari banyak pihak, pemilik kewenangan dalam pengelolaan sampah kota, pada teknologi pengomposan (composting) dapat dimengerti, ketika dipersepsikan semua pengomposan adalah metoda bedeng terbuka ( open windrows method). Kendati populer di pertanian dan pedesaan, metoda bedeng dalam membuat kompos ini, bukan solusi bagi perkotaan, dengan kondisi sosial, lingkungan dan kultur berbeda dengan pertanian. Pada tiap satuan ton sampah, memerlukan luasan lahan bedeng setidaknya 3 x 8 m= 24 m2, dikali lama proses dekomposisi sampah organik 30 hingga 60 hari. Dapat dihitung, sekurangnya membutuhkan 1000 m2, termasuk sarana pemilahan (sortir) dan penyimpanan input-output. Maka, alat mesin tercanggih yang diperlukan bagi metoda bedeng ( open windrows) ini seolah menjadi murah, hanya mesin pencacah ( chopper, counting) bagi keperluan pengecilan ukuran material ( menjadi 2-5 cm).

Padahal, pengadaan mesin pencacah sesungguhnya baru menyiapkan 1 langkah ( tahap awal) dari 8 aspek mengelola proses penguraian (dekomposisi), selain pengecilan ukuran. Mengatur kelembaban, mengatur suhu pada range tertentu, menjaga kadar air, mengatur ukuran atau ketebalan tumpukan ( pile) bagi kepentingan porositas dan mengelola besaran intensitas aerasi serta keberadaan bakteri pengurai cukup guna mengimbangi keberadaan populasi mikroba patogen dari bahan sampah. Karenanya jangan heran, jika kemudian, banyak instalasi pengolahan sampah di berbagai kota menjadi terbengkalai, karena yang terjadi tidak lebih dari memindahkan metoda di pertanian ke perkotaan.

Metoda bedeng terbuka (open windrows) harus diakui bukan solusi yang tepat bagi tujuan pengolahan sampah di perkotaan, utamanya bagi pengolahan dalam satuan kecil tersebar di berbagai sumber sampah berada dan timbul, yang umumnya mendekati tempat manusia (pemukiman). Kebutuhan lahan bedeng yang luas di dekat pemukiman akan menimbulkan biaya investasi mahal, belum lagi keluaran polutan bau dari sampah yang ditumpuk dalam bedeng juga menimbulkan penolakan (resistensi) masyarakat sekitar. Dengan waktu proses hingga 2 bulan juga akan menaikan biaya tenaga kerja - yang tidak mudah diperoleh di perkotaan serta, meresapnya cairan lindi ke tanah juga akan menimbulkan cemaran ke sumur penduduk dan sungai, yang dalam jangka tertentu, akan menjadi masalah bagi masyarakat sekitar. Pendek kata, metoda yang sukses di pedesaan dan pertanian, belumlah menjadi jaminan sama suksesnya bila dilaksanakan di perkotaan.

Dengan mekanisasi penuh, bedeng terbuka dapat digantikan dengan alat mesin Rotary Kiln. Alat ini membatu pembalikan material menjadi praktis, serta pengelolaan kelembaban dan suhu juga dapat terkontrol karena material berada dalam tabung ( Kiln). Dengan mekanisasi, pada tahap penguraian (dekomposisi) setelah pengecilan ukuran dengan pencacah, penambahan intensitas aerasi dan porositas juga semudah memutar pedal exhaust fan. Inilah kunci bagi pengomposan modern yang menjamin bakteri pengurai bekerja tanpa henti ( dorman) - yang menjamin penguraian terus berlangsung dalam kondisi aerobik. Untuk diketahui, bau busuk dalam olah sampah, sesungguhnya ditimbulkan oleh proses penguaraian material organik tatkala kekurangan oksigen ( anaerobik). Pada kondisi an aerobik, material organik yang diurai bakteri, akan menghasilkan H2S dan CH4 ( methana). Kedua gas itulah yang dipersepsikan sebagi bau sampah.

Peranan mekanisasi penuh pada pengomposan, antaranya dengan penambahan alat fermentasi ( Rotary Kiln), telah memberi banyak keuntungan bagi pembuatan kompos dalam kepentingan pengolahan sampah di kota. Keperluan luasan lahan jauh menyusut, dari pengalaman dalam pengolahan sampah target 1 ton ( 3 m3)/ hari secara kontinyu, diperlukan 100 m2. Luasan ini jauh kecil dibanding dengan metoda bedeng pada kapasitas 1 ton/ hari yang sama tadi, hingga 1000 m2. Demikian juga kebutuhan tenaga kerja, cukup 1 orang operator mengerjakan pembalikan, pengelolaan suhu, pengelolaan kelembaban. Dan, dengan waktu penguraian cepat, hanya 5 hari dibanding metoda bedeng terbuka, akan memberikan keuntungan juga pada perputaran modal kerja.

Info detail mengenai Rotary Kiln, mesin kompos modern, kunjungi http://www.kencanaonline.com

  • likes, 0 dislikes

Link to this comment:

Share to:
see all

All Comments (0)

Sign In or Sign Up now to post a comment!
Loading...

Alert icon
0 / 00Unsaved Playlist Return to active list
    1. Your queue is empty. Add videos to your queue using this button:
      or sign in to load a different list.
    Loading...Loading...Saving...
    • Clear all videos from this list
    • Learn more