Alert icon
We're changing our privacy policy. This stuff matters.  Learn more  Dismiss

Pemburu Sarang Walet 2

Loading...

Sign in or sign up now!
Alert icon
Upgrade to the latest Flash Player for improved playback performance. Upgrade now or more info.
11,298
Loading...
Alert icon
Sign in or sign up now!
Alert icon

Uploaded by on Dec 3, 2008

19/01/2008 13:44 – Potret

Kebumen: Burung walet atau apodidae memiliki sekitar 30 spesies. Walte pun mempunyai beberapa ciri khusus dibanding dengan jenis burung lainnya. Sayap menyempit dan runcing, serta ekor yang panjang, adalah salah satu ciri yang mudah dikenali. Jenis burung ini cenderung hidup di dalam goa, menempel dan bergantung pada dinding. Ini berkaitan dengan anatomi walet. Kaki yang sangat kecil membuat walet tak mampu hinggap seperti burung lainnya. Dinding gua yang berpori-pori memang sangat membantu walet saat harus beristirahat dan membuat sarang. Kaki-kaki kecil mencengkeram dinding gua dengan kuat sehingga dapat bergelantung.
Spesies Aerodramus fuciphagus atau walet sarang putih habitat aslinya di gua gelap dan lembab. Jenis walet ini yang paling mudah ditemui di wilayah Indonesia. Sebagian orang pun gemar mengonsumsi sarang walet dengan alasan rasa yang lezat dan khasiatnya bagi kesehatan. Sarang walet memang banyak dipercaya mampu menyembuhkan bermacam penyakit. Sejumlah peneliti menyebutkan, sarang walet mengandung protein, mineral, dan juga sumber asam amino yang lengkap. Karena khasiat dan rasanya yang lezat, sarang walet hingga kini memiliki nilai jual tinggi. Di pasaran lokal, satu kilogram sarang walet dijual seharga Rp 12 juta hingga Rp 20 juta. Tak aneh bila perburuan sarang walet dengan risiko apa pun terus dikerjakan. Namun, bila konservasi alam diabaikan, keberadaan walet dan sarangnya sangat mungkin tak ditemukan lagi.
Kendati demikian, harganya yang mahal membuat para pemburu sarang walet akan terus berupaya mendapatkannya. Berbagai risiko tentu saja bagian dari hal yang harus diatasi. Seperti yang dilakoni para pemetik sarang walet di Desa Karang Bolong, Kebumen, Jawa Tengah. Gulungan rotan sepanjang 30 meter dipersiapkan dan dipilih sebagai tangga karena kecuraman lokasi. Yang pertama kali turun adalah singkep atau pembuka jalur. Meniti tangga rotan yang terpasang di dinding gua adalah satu-satunya cara mencapai mulut gua. Risiko terbesar dari pemetik sarang walet di gua di Desa Karang Bolong adalah terhempas ke gelombang ganas Samudra Hindia. Utas tali akan membawa singkep pada sarang walet yang menempel pada dinding gua.
Berbeda dengan para pemburu sarang walet di gua pegunungan. Di kawasan Gasiang, Solok Selatan, Sumatra Barat, misalnya. Buat mencapai gua sarang walet, para pemburu terlebih dahulu berjalan selama dua hari. Sebab gua yang dipilih walet rata-rata berada di lereng gunung yang jauh dari tempat tinggal manusia. Untuk mencapai sarangnya, seorang pemburu harus menaiki tebing yang tingginya mencapai 30 meter dari mulut gua.
Seperti apa tantangan yang dihadapi para pemburu sarang walet? Bagaimana penuturan sejumlah peneliti mengenai kandungan dan khasiat sarang walet? Dan bagaimana ancaman pemburu sarang walet di alam bebas dan kerusakan konservasi alam terhadap keberadaan walet? Simak selengkapnya di video Potret edisi 19 Januari 2008.

Category:

People & Blogs

Tags:

License:

Standard YouTube License

  • likes, 0 dislikes

Link to this comment:

Share to:
see all

All Comments (0)

Sign In or Sign Up now to post a comment!
Loading...
Alert icon
0 / 00Unsaved Playlist Return to active list
    1. Your queue is empty. Add videos to your queue using this button:
      or sign in to load a different list.
    Loading...Loading...Saving...
    • Clear all videos from this list
    • Learn more