[ Video Art ] "Kembang Genjer"

Loading...

Sign in or sign up now!
Alert icon
Upgrade to the latest Flash Player for improved playback performance. Upgrade now or more info.
68,533
Loading...
Alert icon
Sign in or sign up now!
Alert icon

Uploaded by on Aug 1, 2008

"Kembang Genjer"

Genjer-genjer

Genjer-genjer nong kedok-an pating keleler
(Genjer-genjer di pematang, berserakan)
Emak-e tole,teko-teko mBubuti genjer
(Ibunya anak-anak, datang-datang mencabuti genjer)

Oleh sak tenong mungkor sedot seng tole-tole
(Dapat sebakulLalu ngeloyor pergi dapat yang kecil-kecil)
Genjer-genjer saiki wis digowo muleh
(Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang)

Genjer-genjer isuk-isuk didol ning pasar
(Genjer-genjer pagi-pagi dijual di pasar)
Dijejer-jejer,diuntingi, podo didasar
(Dibariskan, diikat dan semua digelar)

Emak-e Jebreng podo tuku nggowo welasan
(Ibunya Jebreng pada beli membawa belasan ikat)
Genjer-genjer saiki wis arep diolah
(Genjer-genjer sekarang siap diolah)



Itulah lirik lagu genjer-genjer yang pernah dinyanyikan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet, kenangan pahit yang menjadi luka bangsa ketika Indonesia masih di duduki Tentara jepang pada tahun 1942 - 1945. Kehidupan rakyat Indonesia sangat parah, kelaparan dimana-mana, sawah-sawah kering tidak ada yang bisa ditanam. Sebagian dari rakyat Indonesia memodifikasi makanan pokok. Mereka beralih dari makan nasi menjadi gaplek yang terbuat dari singkong, dongkel pisang dan lain sebagainya.
Di Banyuwangi keadaan juga tidak jauh berbeda. Karena tidak bisa menanami sawah, maka tidak sengaja tumbuhlah tanaman parasit seperti eceng gondok, godong wewehan, genjer (limnocharis flava) dan lain sebagainya. Tanaman genjer ini konon katanya, jika di rebus rasanya lebih enak dari kangkung (Saya sudah merasakannya).
Kondisi tersebut membuat seniman Banyuwangi Mohammad Arief yang nantinya tergabung dalam LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat, 1960) terinspirasi untuk mendokumentasikannya dalam sebuah lagu. Pada perkembangannya lagu genjer-genjer tersebut pada masanya happening banget. Dengan lirik dan nada yang sederhana lagu ini sangat di gemari semua kalangan, Bahkan lagu genjer-genjer pernah menjadi lagu hits yang berulang kali ditayangkan oleh TVRI dan diputar di RRI (Jurnal Srinthil Vol. 3 tahun 2003).
Sama seperti pemerintah kita jadi terserang phobia genjer-genjer. Pada tahun 1965 munculnya peristiwa G 30 S/PKI membuat lagu genjer-genjer di hancurkan oleh orde baru. Segala sesuatu yang berhubungan dengan komunis harus di bumi hanguskan. Yang lebih menyudutkan lagi lagu genjer-genjer dijadikan background musik pembunuhan para jenderal di film G 30 S/PKI.
Akhirnya terciptalah stigma baru bahwa lagu genjer-genjer adalah lagu yang menyeramkan. Bahkan tidak jarang sebagian orang menilainya lagu sadis. Seketika itu pula telinga kita jadi asing, emoh untuk mendengarkannya. Apalagi jika ada orang yang mencoba menyanyikan lagu tersebut maka langsung dicap komunis dan ditangkap termasuk penyanyi beken Lilis Suryani dan Bing Slamet.
Entah apa yang salah dengan genjer-genjer sebagai sebuah produk kebudayaan? Ironis. nasib lagu Genjer-Genjer yang terbunuh dengan paksa oleh peristiwa tersebut. Lagu dengan latar belakang penjajahan Jepang malah dikambinghitamkan dengan hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan paham-paham komunis. Lagu Genjer-Genjer ini teralienasikan dari kehidupan kita.
Padahal, jika kita menikmatinya dengan bebas, bisa saja musisi kita mengeksplornya menjadi salah satu lagu daerah. Atau bahkan di arrangement ulang menjadi lagu rock, jazz, disco bahkan techno dan kita bisa berdendang dengan asyik. Mungkin istilah rehabilitasi kultural sangat cocok untuk mengeksiskan kembali lagi lagu ini tanpa tendensi apapun selain berkesenian.
Semestinya negara melalui otoritas regulasinya harus bisa menaungi seluruh produk kebudayaan yang muncul dan dikembangbiakkan oleh rakyat. Regulasi negara tidak lagi menjadi mesin pemangkas yang setiap saat menghabisi produk-produk kesenian rakyat. Oleh karena itu, negara selayaknya menaruh jarak yang sama dengan semua produk kebudayaan rakyat...

Agoessam

Category:

Film & Animation

Tags:

License:

Standard YouTube License

  • likes, 1 dislikes

Link to this comment:

Share to:

Uploader Comments (bintangpagiprod)

  • @all, maaf baru buka hehe... makasih banyak attentionnya mas bro tp itulah Indonesia tercinta kita..

  • @ All

    makasi semuanya atas komentar-komentar nya

    ayo kita luruskan kembali produk-produk budaya hasil karya anak bangsa yang telah di bungkam pemerintah ini.... PEACE...!!

  • thanks for all atas opininya....

  • Saya orang malaysia tetapi bagi saya, lagu ini dipenuhi makna tersirat. Sukar untuk orang tidak pernah dijajah oleh Japan and Kemunculan PKI. Rakyat Indonesia saperti negara asia yang lain agak menderita. Lagu in mengingkatkan saya dengan kesusahan semasa peperangan and perebutan kuasa.

  • wah salut ni, orang malaysia aja peduli ma lagu ini...thxs

  • aneh, jutaan orang terbunuh gara2 lagu ini termasuk pengarangnya wong osing banyuwangi, tapi penyanyinya lilies suryani dan bing selamet, selamat dan bebas g30spki

  • ya itulah kalau ada yang berkepentingan

see all

All Comments (42)

Sign In or Sign Up now to post a comment!
  • hehheeee.........seni itu emang aneh..susah di Nalar tekadang

  • sudah ada beberapa film dokumenter produksi media barat sendiri yg mengungkap peristiwa kudeta militer terhadap Soekarno.

  • genjer dipolitisir ...genjer dipelintir......kejujuran dpermak jadi politik

  • MUngkin lain kalau persefsi saya, pada masa itu banyak pembantaian yang lebih kejam dari pada pembunuhan para jenderal, gerakan satu oktober (gestok) adalah gerakan genosida oleh Pihak Militer yang di dukung oleh CIA.

    Kita melupakan sejarah, dan pada saat itu adalah masa anatara blok barat dan blok timur perang dingin. PKI hanya dijadikan kambing hitam oleh CIA untuk menancapkan kukunya di Indonesia. Bayangkan anggota PKI yang tidak tau menahu dibantai tanpa ada proses pengadilan.

  • @satriarif iya itu yang selama ini dijejali oleh rezim militer soeharto...lagu ini gak ada hubungannya sama sekali dengan apa yg dibilang rezim. Ini lagu secara sederhana mengungkapkan betapa susahnya rakyat hidup waktu jaman perang kemerdekaan. Sekalian ingetin pemimpin biar gak lupa!sama kaya "andai aku jadi gayus" sekarang lah...jangan tau sedikit ttg sejarah kita dong, cari tahu, baca dan kritik. Salam hangat!

  • @sikahbest

    hu um, terlihat 2 figur manusia dengan raut muka sedih, yang dewasa memandang ke kita dan yang satu anak kecil memandang figur org dewasa... kira kira sapa ya mereka? (butuh penjelasan)

  • kalo diamati lebih dalam, terdapat makna yang terkandung di dalam lagu ini, kata -kata didalam nya merupakan isyarat untuk membantai pahlawan revolusi. Diartikan oleh para angkatan waktu itu bahwa genjer genjer artinya "ganyang jendral-jendral" (setidaknya itu sedikit yang saya tahu)

  • kalo diamati lebih dalam, terdapat makna yang terkandung di dalam lagu ini, kata -kata didalam nya merupakan isyarat untuk membantai pahlawan revolusi. Diartikan oleh para angkatan waktu itu bahwa genjer genjer artinya "ganyang jendral-jendral" (setidaknya itu sedikit yang saya tahu)

  • Loading comment...
Loading...
Alert icon
0 / 00Unsaved Playlist Return to active list
    1. Your queue is empty. Add videos to your queue using this button:
      or sign in to load a different list.
    Loading...Loading...Saving...
    • Clear all videos from this list
    • Learn more