Gemerincing mata uang asing menelan genta para pendeta... kilaunya membutakan mata hati
Gelap hati merapal mantra: "Sim Sim Salabim !"
Maka laut kehilangan pantai, tempat pemujaan kehilangan dewa
Kepada siapa sesaji kini dipersembahkan?
"Ada," sahut sesuara... "tapi berikan persembahan lain... kami tak suka sesaji dewa."
Sim Sim Salabim... Semua bisa diatur
Sim Sim Salabim... Semua bisa diubah
Udara berduri tercemar pembusukan diri
Awan kelam mempermurung wajah langit
Di sela-sela rerumputan... cengkerik-cengkerik raksasa menabuh genderang
menantang cengkerik-cengkerik kecil untuk pertarungan tak imbang
Jika semua bisa diubah...
beri kami udara segar pelapang dada
beri kami ruang untuk berseru: Merdeka!
Sim Sim Salabim... Sim Sim Salabim
Sim Simalakama... Sim Simalakama
Link to this comment:
All Comments (0)