Alert icon
We're changing our privacy policy. This stuff matters.  Learn more  Dismiss

NITIKAN, Gempa Bantul Yogyakarta

Loading...

Sign in or sign up now!
Alert icon
Upgrade to the latest Flash Player for improved playback performance. Upgrade now or more info.
10,836
Loading...
Alert icon
Sign in or sign up now!
Alert icon

Uploaded by on Mar 9, 2007

Kemalangan seperti tak berhenti menimpa warga Bantul, Yogyakarta. Setelah diguncang gempa berkekuatan 5,9 skala Richter, rumah- rumah mereka roboh rata dengan tanah, kegelapan tanpa listrik, dan curah hujan kini harus mereka "arungi". Di kabupaten itu saja sampai Minggu (28/5/2006) petang tercatat sudah 2.700 orang lebih meninggal dunia. Belum termasuk korban lain di kabupaten lain di Provinsi DI Yogyakarta dan kota-kota lain di Provinsi Jawa Tengah.
Hujan tiba-tiba turun sejak Minggu sore, sementara sebagian besar warga hanya tidur "beratap langit". Bantuan tenda dan logistik yang diharap-harap pun tak kunjung tiba....

Sepanjang jalan di sekitar Kecamatan Sewon menuju ke arah kota Bantul warga hanya menggelar selembar tikar atau apa saja yang bisa dijadikan alas untuk tidur, tanpa atap. Namun, langit memang tidak sedang ramah hari ini. Lantaran hujan sebagian kemudian memfungsikan alas tidur sebagai atap.
Itu artinya, kalau hujan reda, mereka harus tidur di atas alas yang basah. Penderitaan itu pun masih harus ditambah lagi dengan padamnya aliran listrik sejak Sabtu pagi. Warga Bantul benar-benar harus hidup dalam "kegelapan", bukan semata karena ketiadaan penerangan, tetapi lebih-lebih lantaran ketidakjelasan hari esok.

Siang hari setelah guncangan, Jumilah (60) sudah mengungsi bersama cucunya, Afnan, yang baru lahir dua bulan lalu. Perempuan asal Dusun Serut, Desa Palbapang, Bantul, ini mengungsi di tenda peleton di Lapangan Trirenggo. "Saya tidak perlu dipikirkan, tolong carikan cucu saya baju, ia kedinginan...," ujar Jumilah. Tak seorang pun bergeming. Bahkan beberapa anggota satkorlak yang diajaknya bicara seperti tak berbuat apa-apa. Celakanya lagi, tenda yang diharap bisa memberi perlindungan dari ancaman dingin dan hujan malah kebanjiran karena hujan deras. "Kami terpaksa tidur sambil berdiri menggendong bayi...," tutur Jumilah. Siti Maryati (25), ibu sang bayi, hanya mengangguk. Mungkin ia sudah kehabisan kata untuk mengungkapkan penderitaan keluarga.

Eni Trianawati (23), yang baru melahirkan dua hari lalu, juga rela menapaki bukit yang penuh pepohonan kayu putih di Hutan Bunder Gunung Kidul untuk mengungsi di tempat itu. Bayi yang belum dinamainya ini menangis sepanjang jalan. Di hutan beberapa kali mereka merasakan gempa susulan dan hujan deras. Ia lari ke hutan bersama ratusan orang lainnya dan tinggal di situ sampai Minggu pagi untuk menghindari gempa dan isu tsunami. Tak ada tenda layak ataupun makanan saat ia mengungsi di situ padahal anaknya sepanjang malam menangis karena kedinginan dan kelaparan.

"Kami butuh bantuan, Mas ini wartawan dari mana? Tolong kami, Mas. Ayo lihat rumah kami di sana. Semuanya hancur dan sampai saat ini kami belum dapat bantuan. Padahal warga dusun lainnya sudah," ujar Johan (30), dengan mata berkaca-kaca. Tangisannya pun keluar sesenggukan dan butiran air mata itu disekanya dengan punggung telapak tangan. Warga Demangan, Trimulyo, Jetis, Bantul, ini kemudian menggandeng tangan wartawan dan memperkenalkan pada beberapa tetangganya yang saat itu tengah berdiri di tepi jalan Imogiri. Keluhan mereka pun sama, sangat berharap ada bantuan, terutama untuk makanan dan tenda berlindung dari hujan.

Jika kemudian di hampir seluruh tepi jalan sekitar Bantul ada tulisan berbunyi, "Kami Butuh Bantuan" atau "Menerima Logistik", duduk perkaranya makin menjadi jelas.
Sehari setelah bencana, sebagian besar warga belum menerima bantuan yang layak. Jangankan makanan, sekadar tenda berteduh dari guyuran hujan pun belum mereka terima. Dalam kondisi seperti itu, warga berupaya mencari jalannya sendiri. Selain mendirikan tenda-tenda dengan bahan apa saja, mereka juga mulai meminta sumbangan kepada setiap kendaraan yang lewat.

Hampir di sepanjang ruas jalan dari perempatan Wonokromo di Kecamatan Plered, ke arah Imogiri, siang itu penuh oleh warga yang membawa kardus sumbangan. Hal yang sama terjadi di ruas jalan dari Imogiri ke arah Kota Bantul. Kondisi ini didorong oleh "kekosongan" akibat kelambanan pemerintah dalam menangani para korban. Warga mengambil "inisiatif" sendiri, karena merasa "ditelantarkan".

Bupati Bantul Idham Samawi memang telah berjanji untuk sesegera mungkin mendistribusikan bantuan agar warga tidak meminta-minta sumbangan di jalanan. Idham menyatakan, bantuan sudah berdatangan dan distribusi dipusatkan di 17 kantor kecamatan yang ada. Persoalannya, "jalur distribusi" selalu butuh pengawalan ketat supaya materi yang didistribusikan segera sampai. Distribusi juga butuh sukarelawan pelaksana yang militan, yang hanya mengabdi pada kepentingan rakyat yang amat menderita. Kalau begitu, ia harus bekerja keras karena sampai Minggu sore warga yang menggelar tikar atau lembar papan rumahnya di sekitar Kecamatan Kasihan, Bantul, masih cukup banyak. Beberapa bahkan di antaranya membuat tenda darurat di tengah-tengah persawahan. Dalam cuaca hujan, tentu saja sawah sangat rentan terhadap banjir.

Category:

People & Blogs

Tags:

License:

Standard YouTube License

  • likes, 0 dislikes

Link to this comment:

Share to:

Video Responses

This video is a response to Los Angeles Earthquake
see all

All Comments (0)

Sign In or Sign Up now to post a comment!
Loading...

Alert icon
0 / 00Unsaved Playlist Return to active list
    1. Your queue is empty. Add videos to your queue using this button:
      or sign in to load a different list.
    Loading...Loading...Saving...
    • Clear all videos from this list
    • Learn more