MEUTYA HAFID Trus BERJUANG AGAR BANDARA KUALANAMU CEPAT SELESAI
MEDAN -Anggota DPR Fraksi Golkar dari daerah pemilihan Sumut 1, Meutya Hafid melakukan kunjungan ke Bandara Kualanamu. Ia menemui pihak Satuan kerja Bandara dari Kementerian Perhubungan dan pihak PT Angkasa Pura 2 untuk mengetahui lebih dalam duduk permasalahan yang masih menjadi kendala dalam pembangunan Bandara Kualanamu, Rabu (03/11/2010).
"Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, sangat membutuhkan sebuah bandar udara tingkat Internasional. Terwujudnya bandara Kualanamu akan meningkatkan denyut nadi pariwisata dan sektor lain di Sumatera Utara ini." Tutur anggota Komisi XI ini.
Dalam rangka kunjungan masa reses ini, Meutya memang sangat menaruh perhatian penting pada sektor infrastruktur di daerah pemilihannya. Bandara Kualanamu yang dibangun dengan pendanaan dari APBN ini pelaksanaan pembangunannya telah dimulai sejak tahun 2007. Progress total pelaksanaan pembangunan sampai dengan bulan Oktober 2010 baru mencapai 61,87 %. Nilai anggaran diestimasi akan mencapai Rp 3,3 triliun.
Berlokasi Desa Beringin, Kecamatan Beringin, Kab Deli Serdang, Bandara ini direncanakan menjadi bandara terbesar kedua nasional setelah bandara internasional Sukarno-Hatta Jakarta. Kualanamu direncanakan untuk dapat didarati pesawat sejenis B-747-400 dan pesawat A-380, memiliki landas pacu (runway) dengan dimensi 3.750 m x 60 m, juga kapasitas Terminal Penumpang 86.000 m2 yang dapat menampung 8 juta penumpang.
"Saya sangat berharap percepatan bandara Kualanamu dapat terlaksana, saya melihat ini sebagai infrastuktur strategis yang harus diprioritaskan. Ini akan saya perjuangkan sebelum masa jabatan saya habis." Demikian tekad anggota dewan ini.
Masalah yang dihadapi dalam pembangunan bandara Kualanamu adalah persoalan utama kekurangan anggaran sejumlah 1,2 Triliun, kemudian persoalan lainnya antara lain masalah pembangunan landas pacu pesawat (runway) yang belum bisa terlaksana karena harus proses lelang ulang sesuai hasil audit BPKP, persoalan pembebasan lahan yang belum tuntas dengan masih adanya penduduk yang menempati lahan proyek, juga persoalan pembebasan lahan untuk memulai pembangunan jalan non tol menuju lokasi bandara. (
Seharusnya Bu Meutya Hafid dilengkapi dengan wireless mike supaya kedengaran tanya-jawabnya dengan orang-orang proyek KNIA.
ggparded1 6 months ago