Taman Nasional Tsavo Timur Kenya adalah rumah bagi 12.000 gajah, tapi kini mereka terancam kekeringan dan perburuan liar, serta habitatnya.
Petugas taman beralih ke teknologi satelit sebagai solusinya.
Mereka akan memantau beberapa hewan untuk mengetahui kebiasaan di kawasan itu.
Menurut peneliti taman Elphus Bitok, organisasi tersebut bekerja sama dengan Pendanaan Internasional untuk Kesejahteraan Hewan (IFAW) untuk memasang kalung GPS pada delapan hewan jantan dan betina selama 20 bulan.
[Elphus Bitok, Peneliti, Pelayanan Satwa liar Kenya]:
"Kalung ini memiliki komponen GPS and VHF. Komponen GPS bisa berkomunikasi dengan satelit, yang akan meneruskan informasi itu lewat internet supaya anda dapat mengetahui dengan tepat dimana lokasi gajah tersebut."
Penjaga hutan berkata informasi lokasi hewan akan membantu peningkatan keamanan, memerangi perburuan liar dan usaha menengahi konflik dengan manusia.
Fred O'Regan, Presiden dan CEO IFAW, berkata, biaya kehilangan gajah dan habitat satwa liar lainnya lebih mahal daripada usaha untuk mengamankan mereka.
[Fred O'Regan, Presiden & CEO, IFAW ]:
"Kami juga mencoba mempelajari rute migrasi mereka sehingga kita dapat memastikan bahwa mereka dapat berkembang untuk masa depannya."
Populasi gajah Kenya meningkat 8 persen selama dua tahun terakhir dan dengan teknologi satelit ini, pecinta lingkungan hidup berharap tren tersebut akan terus berlanjut.
Link to this comment:
All Comments (0)