Perekonomian China tampaknya terus maju. Namun di bulan Maret inflasi China mencetak rekor tertingginya di 32 bulan terakhir. Hal ini merupakan masalah besar bagi warga kebanyakan.
Harga makanan dan kebutuhan pokok meningkat tajam, sementara peningkatan gaji tidaklah sebanding.
[Zhang Kelling, Pekerja Konstruksi]:
"Gaji kami tidak naik banyak. Penghasilan kami pun sangat kecil. Tiga tahun lalu kami mendapatkan 80 yuan (12 dolar AS) per hari, dan sekarang kami mendapatkan 100 yuan (15 dolar AS) per hari. Ketika harga-harga naik, kami sebagai buruh migran benar-benar tidak sanggup."
Harga pangan melonjak 11,7 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Pegadang bahan pangan di Beijing, Du Zongjun berkata hasil penjualannya pun menurun.
[Du Zongjun, Pedagang]:
"Dampaknya jelas terlihat. Orang-orang tidak membeli bahan makanan sebanyak dulu, dan bisnis saya pun menurun. Alasan utamanya adalah karena harga yang terlalu tinggi, sementara gaji mereka tidak naik, jadi mereka hanya membeli sedikit. Kalau dulu mereka membeli satu atau dua mentimun, sekarang cukup membeli satu."
Tingginya harga dan gaji yang mandek membuat masyarakat kesal. Dan rezim PKC, waspada terhadap keresahan sosial, pun menyadarinya.
Rezim komunis telah menaikkan suku bunga dua kali lipat dan mewajibkan bank untuk menyimpan uang tunai sebanyak tiga kali lipat dari jumlah pinjaman mereka, dalam upaya mengerem laju inflasi.
Upaya mengontrol harga tersebut, di pangsa pasar China yang sulit terkendali dan kekurangan peraturan, belum terlihat efektif.
Link to this comment:
All Comments (0)