IL
Upload

Loading icon Loading...

This video is unavailable.

Gempa Bantul dan Gunung Merapi Yogyakarta 27-5-2006

Sign in to YouTube

Sign in with your Google Account (YouTube, Google+, Gmail, Orkut, Picasa, or Chrome) to like Yusuf Adni's video.

Sign in to YouTube

Sign in with your Google Account (YouTube, Google+, Gmail, Orkut, Picasa, or Chrome) to dislike Yusuf Adni's video.

Sign in to YouTube

Sign in with your Google Account (YouTube, Google+, Gmail, Orkut, Picasa, or Chrome) to add Yusuf Adni's video to your playlist.

Uploaded on Mar 8, 2007

https://www.facebook.com/photo.php?v=...

Ada kalimat kalimat yang setiap saat saya dengar selama dua hari berada di Bantul itu, setelah mengucapkan, "Maturnuwun sanget (terima kasih sekali), " mereka meneruskannya dengan, "Saking pundi tho jenengan .., jenengan niku sinten ..?" Artinya kurang lebih adalah "Anda itu siapa, berasal darimana?" Pertanyaan yang tak perlu repot-repot dijawab, karena seulas senyum jauh lebih berarti dari ribuan kata-kata tak bermakna yang belakangan ini banyak diumbar di kota kecil itu. Diantara yang bertanya, ada seraut wajah yang tidak hilang seiring waktu berjalan, dialah mbah Djiyem, sudah renta sekali. "Sampun mboten kemutan (enggak ingat)", katanya ketika ditanya berapa usianya? Ketika bertemu sosok ini di kala senja di sebuah dusun terpencil di wilayah Jetis, hujan deras mengguyur menyedihkan hati, kain kebayanya basah dan kumal, ia duduk sendirian diantara puing-puing rumahnya, hanya mengenakan penutup kepala tas kresek warna hitam, perutnya melilit minta diisi, sudah dua hari ia tak bertemu makanan. Di sebelahnya ada beberapa butir kelapa muda yang diberikan tetangganya, sebagian sudah dibelah, tiga lagi masih utuh, itulah yang membantunya bertahan hidup, padahal letak desanya tidak jauh dari pusat bantuan logistik yang bertumpuk luarbiasa banyaknya di sekitar kantor Bupati dan lapangan Trirenggo, tempat penampungan para pengungsi. Ia bertahan tak mau mengungsi, memilih menunggui cucunya yang diyakininya masih "tidur" di dalam "rumah" yang sudah menjadi puing. "Nenggani putu kulo, tasih tilem wonten ngandap", katanya sembari berulang-ulang menyapu matanya dengan ujung kebayanya yang kuyup. Antara tetesan air mata dan dan air hujan sudah tak bisa dibedakan lagi. Bagi seorang nenek, cinta kepada cucu kadangkala melebihi cinta terhadap apapun di dunia ini. Untuk cinta semacam itulah ia rela diam, bergeming dalam gelap, kehujanan dan kepanasan, tanpa makanan. Bila fisiknya masih perkasa, siang malam ia pasti menyibak tumpukan batu bata dan kayu, yang menghalangi kerinduannya memeluk sang cucu.

Alam memperlihatkan Kuasa Tuhan yang amat menggetarkan, menyentak sebagian besar warga Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya; yang selama beberapa bulan terakhir memusatkan perhatian pada Gunung Merapi yang sedang aktif luar biasa. Siapa menduga bahwa jauh di dalam kulit Bumi sana juga ada aktivitas lain yang lebih subtil untuk ditangkap indera manusia. Di lepas pantai Yogyakarta di Samudra Hindia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia bertumbukan dengan dahsyatnya, melepaskan energi yang menyebar dengan kekuatan tak tertahankan untuk ukuran manusia.

Penjelasan di atas kiranya melegakan kita yang tergerak untuk mengaitkan gempa kemarin dengan kemarahan Ratu Laut Selatan (Nyi Roro Kidul). Sekali lagi Allah SWT menunjukkan kekuasaan-Nya dan memberi cobaan serta peringatan kepada kita semua. Ribuan rumah rata dengan tanah, ribuan jiwa meninggal dunia menghadap Illahi akibat terkena reruntuhan bangunan. Bagi mereka yang meninggal dunia, mereka telah dipilih Allah SWT untuk menjadi syuhada.

Gempa berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Jogja dan Jateng 27 Mei 2006 menyisakan isak tangis dan haru biru bagi warga Jogja dan Jateng. Rumah, toko, kendaraan, dan hewan ternak semua habis tak tersisa. Sebagian pula harus rela kehilangan kekasih dan sanak keluarganya untuk selama-lamanya. Sungguh guncangan hebat yang terjadi pada pagi buta itu menjadi cerita duka bagi warga Jogja dan Jateng. Hanya orang-orang yang bermental bajalah yang tetap tabah menjalani semua cobaan yang diberikan Yang Kuasa ini.

Pada sisi lain, setiap kali terjadi musibah bencana alam, kita menyaksikan umat manusia dipersatukan tanpa memandang batas negara dan perbedaan-perbedaan. Solidaritas antarmanusia selalu terbangun manakala ada sesama dirundung bencana. Seperti halnya di Aceh, di Nias, dan di wilayah wilayah lain. Pada musibah Yogyakarta ini kita melihat uluran bantuan segera datang dari berbagai pihak, di dalam dan di luar negeri. Semoga semangat kemanusiaan senantiasa juga hidup mewarnai pergaulan manusia pasca bencana.

Di pihak lain, saudara-saudara kita yang sedang berjuang mempertahankan hidup di rumah sakit, para korban luka yang membutuhkan darah, mereka yang kehilangan rumah tinggal, kehilangan kekasih; di Bantul, di Klaten, dan tempat-tempat lain, pastilah sekarang ini sedang menunggu datangnya bantuan. Mari kita sampaikan segera bantuan dan pertolongan kita bagi mereka, dan yakinkan bahwa mereka tidak sendiri di saat menderita sekarang ini. Semoga amal kita diterima oleh Allah SWT dan mendapat balasan yang lebih baik. Aamiin

Loading icon Loading...

Loading icon Loading...

Loading icon Loading...

Loading icon Loading...

Ratings have been disabled for this video.
Rating is available when the video has been rented.
This feature is not available right now. Please try again later.

Loading icon Loading...

Loading...
Working...
to add this to Watch Later

Add to