toples in act 4,251
Featured Playlists
Pudja Band
Sebelum bernama Pudja, Band asal kota Sukabumi ini bernama Canaya. Band yang digawangi Budie (Vocal), Rudi (Guitar), Gie (Keyboard), Buce (Bass) dan Panji (Drumer) terbentuk tanggal 27 Februari 2007.
Tahun 2008 Pudja menelurkan album perdana dengan hits sigle "Benar Benar Pergi". Dalam penggarapan album pertama ini, musik secara langsung di produseri oleh Budhy Haryono (musisi/drummer)dan di bantu oleh asisten music director Opet Alatas teman seperjuangan di Tiket. PUDJA menawarkan musik pop yang ringan dan mudah dicerna oleh masyarakat.
Duo Maia
Meskipun mengklaim Ratu identik dengan dirinya, Maia Estianty tidak lagi menggunakan nama Ratu pada album terbarunya yang berjudul "Maia & Friends".
"Ya, aku ingin mengubur yang pahit-pahit di masa lalu, walaupun banyak juga manis-manisnya, tapi Ratu itu ya Maia, Maia ya Ratu," katanya dalam jumpa pers peluncuran album (double single) "Maia & Friends", di Jakarta, Kamis.
Selelah sempat berkolaborasi dengan Pinkan Mambu dan kemudian Mulan Kwok dalam format duo, kini Maia memilih format yang lebih ke band, kendati yang ditonjolkan tetap format duo.
Pasangannya sekarang bernama Mey Chan.
Dibandingkan dua teman duet sebelumnya, Maia memuji Mey Chan yang memiliki beberapa kelebihan, termasuk cukup piawai memaikan instrumen musik gitar, bas, dram dan kibor.
"Tapi aku minta dia untuk tidak main kibor karena itu berarti mengambil posisiku," katanya setengah bercanda.
Masih dalam naungan Sony-BMG, album "Maia & Friends berisi dua lagu baru ciptaan Maia, "Ingat Kamu" dan "EGP (Emang Gue Pikirin)", dan diperkaya dengan band dan artis lain, di antaranya GIGI dengan lagu hits "Nakal", Drive (Bersama Bintang), She (Slow Down Baby), Astrid (Kosong), dan Glenn Fredly (Wanita, Happy Sunday).
Salah Kira
Tidak berbeda dari Pinkan maupun Mulan, pasangan baru Maia juga berasal dari lingkungan artis penyanyi.
"Aku sebelumnya tampil di kafe-kafe," kata Mey Chan.
Ia mengaku tidak menyangka bisa menjadi pendamping Maia.
"Ratu terlalu besar, aku semula mengira ikut audisi hanya untuk menjadi penyanyi latar," katanya.
Menurutnya, informasi bahwa Ratu sedang mencari penyanyi baru diketahuinya dari seorang kenalannya di "Frienster", yang juga sepupu Maia.
Ia juga mengaku sempat mengundurkan diri setelah tahu audisi itu untuk penyanyi pendamping Maia.
Setelah melalui pertemuan, termasuk dengan Maia sendiri, ia akhirnya setuju.
Menjawab wartawan tentang kemungkinan dirinya kelak bakal keluar untuk bersolo karir, seperti halnya Pinkan dan Mulan, pasangan duet Maia yang baru berusia 21 tahun itu mengatakan, "Saat ini yang aku pikirkan adalah melakukan yang terbaik untuk Maia."
ST 12
ST12 adalah grup musik beraliran musik Melayu. ST12 didirikan di Bandung oleh Ilham Febry alias Pepep (drum), Dedy Sudrajat alias Pepeng (gitar), Muhammad Charly van Houten alias Charly (vokal), dan Iman Rush (gitar).
Awalnya, keempat personel ini tak saling kenal, meski mereka telah lama berkecimpung di dunia musik. Mereka mulai akrab setelah sering bertemu di studio rental di Jalan Stasiun Timur 12, Bandung, milik Pepep. Mereka pun akhirnya resmi mendirikan ST12 pada tanggal 20 Januari 2005. Nama ST12 yang merupakan kependekan dari Jl. Stasiun Timur No. 12 adalah nama pemberian ayah Pepep, Helmi Aziz.
Meski keempat personel ini memiliki aliran musik favorit yang berbeda, Charly menggemari jazz, Pepep suka jazz dan rock, sementara Pepeng tumbuh bersama musik rock, namun mereka kompromi untuk membuat ST12 beraliran melayu.
ST12 terpaksa merilis album perdana mereka melalui jalur independent (indie) karena tak ada label yang mau menampung mereka. Sayang, pada bulan Oktober 2005, saat tur promosi album di Semarang, Iman Rush meninggal akibat pecah pembuluh darah di otak.
Trinity Optima Production mulai melirik ST12 setelah album perdana, JALAN TERBAIK (2005), meraih sukses. Album kedua, P.U.S.P.A (2008) yang didedikasikan untuk Iman, dirilis di bawah label Trinity.
Angkasa
Satu lagi musisi anak negeri bakal meramaikan kancah musik Tanah Air. Kali ini berasal dari Cianjur dengan nama Angkasa Band. Dengan bekal segudang prestasi, band dari kota besar ini siap tinggal landas ke blantika musik Indonesia lewat album debut berjudul JPS (Jangan Pernah Selingkuh). Album yang berada dibawah bendera Warner Music Indonesia, merupakan wujud nyata dari impian dan perjuangan mereka selama tiga tahun.
Adalah Ato (vokalis), Ovieck (bassis), Anggie (drummer), Ling Ling (kibor) dan Teguh (gitaris) yang bercita-cita untuk menjadi musisi ternama. Kami memang penghayal semua. Jauh sebelum band ini terbentuk masing-masing kami sudah bermimpi untuk jadi artis band terkenal. Karena itu nama band ini Angkasa, sesuai dengan cita-cita kami berlima yang setinggi angkasa, ungkap Ato.
Angkasa Band yang lahir pada 23 November 2004, awalnya adalah band panggung dengan warna klasik rock. Mereka juga kerap membawakan lagu-lagu milik Bon Jovi, U2, Mr Big atau Dewa. Masing-masing kami memiliki latar belakang musik rock. Itu yang menyatukan jiwa kami sampai sekarang, ucap Ato. Lingkungan yang kondusif menjadikan Angkasa Band berkembang pesat. Mereka menjadi Juara I Festival Band tingkat SLTA tahun 2004, dan Juara III Musikalisasi Puisi Se Jawa Barat di tahun yang sama. Kemudian mereka juga menjadi Juara I Pentas Merdeka tahun 2006, dan Juara III Lomba Cipta Lagu Se Jabar tahun 2007. Band ini juga sempat ikut ajang Dreamband tahun 2005 yang menjadikan Ato terpilih dalam tiga besar untuk kategori vokalis. Hanya saja, dia memutuskan untuk tetap bersama Angkasa. Saya memilih menseriusi apa yang sudah saya dan teman-teman rintis sejak awal. Saya yakin dari hati kalau Angkasa Band pasti bisa, ucapnya optimis.
Dari sana, kiprah mereka semakin bergaung. Mereka mulai tampil sebagai band pembuka untuk grup papan atas seperti Pas Band, RIF dan Kapten. Seiring dengan itu, Angkasa pun mulai melahirkan karya musik dan lagu sendiri. Namun nasib belum juga mempertemukan mereka dengan label rekaman. Kami waktu itu berulang kali datang ke Jakarta menawarkan demo, tetapi belum ada satupun yang lolos, ujar sang vokalis. Namun mereka tidak putus asa. Penolakan itu membuat mereka memberanikan diri untuk memproduksi sendiri alias album indie. Mereka pun memasarkan CD buatan sendiri itu secara langsung di sejumlah sekolah di Cianjur dan sekitarnya dan mempromosikannya lewat radio yang ada di Cinajur. Tak diduga album bentuk keping CD dengan hit JPS itu langsung laris manis.
Kami sih nekad, bahkan cover CD itu kami buat sendiri. Yang penting musik kami ada yang dengar. Alhamdullilah ternyata banyak yang suka. 100 CD yang kami buat langsung habis terjual, kenang Ato. Ternyata diluar sepengetahuan mereka karya mereka tersebar hingga ke pulau Sumatera, Kalimantan dan Bali. Saya tiba-tiba ditelpon teman dari Lampung, Balikpapan dan Bali yang mengatakan kalau album kami sudah beredar di sana. Senang sekaligus sedih, karena yang beredar itu sebenarnya bajakan, jelas Ato lagi.
Blessing in disguise, pamor itu juga yang membawa mereka ke tangan produser Harry Tasman yang kemudian membawa mereka berkenalan dengan label sebesar Warner Music Indonesia. Dalam waktu singkat mereka akhirnya menandatangani kontrak untuk membuat album yang sesungguhnya. Lahirlah album JPS dengan hit JPS, Luka, Asya, Cemburu Buta, Cinta Berat, Putuskan Aku, Teman, Tyas, Yang Berlalu Biarlah, dan Akulah Yang Bisa.
Mengapa lagu-lagu Angkasa Band cepat meledak ? Ato dan kawan-kawan sulit untuk memberikan jawaban pasti. Hanya saja jika disimak lagu-lagu mereka banyak berkisah tentang pengalaman cinta. Pengalaman yang mungkin dialami setiap orang saat berpasangan. Ada kisah cinta yang sakit hati pada Luka, kisah cinta yang platonis pada lagu Putuskan Aku, ada juga kisah cinta yang penuh kerelaan pada lagu Yang Berlalu Biarlah. Ato mengakui hal itu karena lirik lagu-lagu Angkasa Band ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Seperti lagu Luka yang bakal menjadi single kedua, menurut cowok kelahiran Cianjur 22 Maret 1984 itu adalah ungkapan perasaan sakit hati dan terluka akibat pengkhianatan orang terdekatnya. Kalau lagi sakit hati dengarlah lagu-lagu Angkasa Band, katanya. Biar bisa lebih dalami, sehingga bisa tercurahkan apa yang mereka rasakan, ucap mereka.
Dengan album JPS (Jangan Pernah Selingkuh) ini besar harapan Ato, Ovieck, Anggie, Ling Ling dan Teguh karya perdana mereka dapat diterima masyarakat secara lebih luas. Kami mungkin bermimpi. Semoga saja masyarakat luas mau mendengarkan lagu-lagu kami dan mudah-mudahan menerimanya, ucap mereka. Angkasa Band kini sudah tinggal landas menggapai impian mereka!
Advertisement





Play all(49)



