Successfully removed.
Sorry, an error occurred.
|
christovwiloto uploaded a new video
(2 weeks ago)

Pesawat TNI jatuh lagi. Kali ini menimpa helikopter TNI-AD. Musibah itu ...
more
Pesawat TNI jatuh lagi. Kali ini menimpa helikopter TNI-AD. Musibah itu adalah yang sekiankalinya terjadi dalam setahun terakhir. Sebagai bangsa dan negara, Indonesia kemudian seolah menjadi bangsa kere yang tidak punya apa-apa dan tak sanggup membeli apa-apa. Padahal sebetulnya tidak demikian.
Saya bermimpi Indonesia bisa berjaya seperti sejarah kita dulu, seperti kejayaan Sriwijaya, Majapahit, Goa, Bugis, Ternate, Tidore, Aceh, Demak dan sebagainya. Itu adalah nama-nama dari kerajaan besar yang membuat bangga anak sekolah sebagai bangsa Indonesia.
Saya bermimpi Indonesia bisa berjaya seperti sejarah kita dulu. Majapahit misalnya dikenal sebagai kerajaan yang mempersatukan bangsa dan negara menjadi kuat. Pengaruh Majapahit bahkan melampaui batas-batas yang kini disebut sebagai Indonesia. Kitab Kakawin Nagarakretagama pupuh XIII-XV menyebutkan wilayah kekuasaan Majapahit terbentang dari Sumatra hingga Papua (Wanin). Majapahit juga tercatat telah memiliki hubungan dagang dengan Kamboja, Thailand, Birma dan Vietnam dan bahkan, menempatkan perwakilannya di Cina.
Dalam bidang pertahanan dan keamanan, Majapahit dikenal memiliki armada kapal cadik modern. Kapal-kapal itu dimodifikasi sedemikian dari kapal-kapal perang Kubilai Khan. Majapahit berkembang menjadi kerajaan maritim yang disegani. Tak mudah bagi negara lain, untuk menaklukkan Majapahit, meski kerajaan itu akhirnya harus runtuh karena perang saudara.
Saya bermimpi Indonesia bisa berjaya seperti sejarah kita dulu, saat Indonesia menjadi negara besar yang memiliki pengaruh kuat di dunia. Saat ribuan pejuang yang bertaruh nyawa mengusir penjajahan asing dari tanah Pertiwi.
Bagaimana sekarang? Berulang kali Indonesia dijadikan bulan-bulanan banyak negara. Ekonomi katanya lebih baik, tapi hampir sebagian besar sumber daya alam diserahkan kepada asing. Kita sebagai bangsa lalu seolah tak punya daya tawar, tak punya harga diri, karena menyerahkan negara lain ikut mengatur bagaimana sumber kekayaan harus diolah dan diproduksi.
Bukan itu saja, sudah sering kali pula, negara lain melecehkan kedaulatan Indonesia sebagai negara dan bangsa. Kasus yang terbaru adalah provokasi yang berulang-ulang dilakukan Malaysia di Perairan Ambalat. Negara jiran itu tampaknya tahu, di tengah karut-marut politik nasional saat ini dan kepemimpinan Indonesia yang lemah, Indonesia tak akan memilih jalan konfrontasi.
Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang memiliki sumber daya alam dan manusia yang tidak kalah dengan negara lain. Sayangnya biaya pendidikan juga tidak dibuat semakin murah, sehingga anak-anak muda yang cerdas "diambil" oleh negara lain, misalnya Singapura. Mereka disekolahkan gratis, diberi tempat, dan diikat untuk bekerja di sana.
Kasus tragis David Widjaja, mahasiswa Indonesia di Singapura yang tewas mengenaskan. Anak muda itu dikenal sebagai mahasiswa cerdas dan menemukan sesuatu yang baru yang akan dia persembahkan untuk bangsa dan negaranya. Sayang David harus mati tapi kematiannya sama sekali tak digubris oleh pemerintah meski banyak pihak yang menyebutkan David sengaja dibunuh.
Dengan semua kejadian itu, momentum Pemilu Presiden 2009, seharusnya menjadi introspeksi kita semua. Inilah saatnya untuk menghitung ulang semua kepentingan negara dan bangsa ini, apakah akan menjadi sebuah berkah bagi seluruh rakyat atau sebaliknya tetap didikte oleh negara lain (asing).
Maka pada Pemilu Presiden kali ini, sudah semestinya para capres menonjolkan ketegasan dan berani menjanjikan bangsa dan negara menjadi bangsa dan negara yang mandiri, bebas dari semua kepentingan apalagi didikte bangsa dan negara lain. Jangan lagi hanya bicara kemakmuran dan keberhasilan yang sebetulnya hanya dinikmati sebagian kecil orang.
Karena kalau hanya itu-itu saja yang dilontarkan, tentu rakyat tahu, mana pemimpin yang tegas dan membela kepentingan rakyat, mana pemimpin yang hanya menghendaki dirinya tak tercela.
Saya bermimpi Indonesia menjadi bangsa yang jaya, dihormati bangsa- bangsa di dunia. Bangsa yang beradab, berbudaya, cerdas dan tangkas. Maju perekonomiannya, adil dan makmur. Memimpin bangsa-bangsa lain, dan tidak didikte bangsa lain, menjadi bangsa yang menjadi kebanggaan dan mampu menentukan nasibnya sendiri, mandiri.
Saya tidak bermimpi Indonesia bisa berjaya lagi seperti sejarah kita dulu. Ternyata saya tidak bermimpi !
Peluang itu ada didepan mata
less
|
|
| |
|
christovwiloto uploaded a new video
(1 month ago)
HADIRI: CORONER COURT TERBUKA KASUS TERBUNUHNYA DAVID HARTANTO WIDJAJA, ...
more
HADIRI: CORONER COURT TERBUKA KASUS TERBUNUHNYA DAVID HARTANTO WIDJAJA, besok di Subordinate Court di China Town, seberang Furama Hotel China Town. Besok mulai jam 09.00; sidang tgl 20,21,22 & 25,26 Mei (rabu, kamis, jumat, senin, selasa); Dress Code: BATIK. Mhn bantuan PELIPUTAN MEDIA-MEDIA INDONESIA/BATAM, (Mhn info ke rekan2 semua)
less
|
|
| |
|
christovwiloto uploaded a new video
(2 months ago)
A Social Message from Indonesia
|
|
| |
|
christovwiloto uploaded a new video
(2 months ago)

http://www.strait...
April 13, 2009 NTU STUDENT'S DEATH FALL Family wants ...
more
http://www.strait...
April 13, 2009 NTU STUDENT'S DEATH FALL Family wants more info
They try to meet NTU don and talk to son's varsity mates about his final hours By Kimberly Spykerman
The family visited NTU on Saturday to retrace Mr Widjaja's last steps, from Prof Chan's office to the site of his fall, where his mum and dad placed fresh flowers. -- ST PHOTO: WANG HUI FEN THE family of the Indonesian undergraduate believed to have fallen to his death after allegedly stabbing his professor returned here last week, hoping to find out more about the final hours of his life. But after four days here, the parents and brother of former Nanyang Technological University (NTU) student David Hartanto Widjaja appeared to have accomplished little of what they had hoped to do.
They talked to some of Mr Widjaja's friends but failed to meet NTU president Su Guaning and Associate Professor Chan Kap Luk, who has since been discharged from hospital.
It has been a month since Mr Widjaja, a 21-year-old final-year electrical and electronic engineering student allegedly stabbed Prof Chan, 45, during a discussion over his final-year project and then fell four storeys to his death on campus.
His family is still grieving, and its members say they have been unable to come to terms with their loss because the young man gave them no inkling that anything was wrong when they spoke to him days before his death.
The family came back here the first chance they could, taking advantage of the long weekend tied to the legislative elections in Indonesia.
The day after their Wednesday arrival, they parked themselves at the Indonesian Embassy, where they waited six hours to meet more than 30 of Mr Widjaja's friends who had turned up to vote.
The Widjajas were, however, less successful in getting a meeting with Dr Su. They tried to arrange for one through the embassy, which sent in their request for the meeting late on Wednesday afternoon. By then, Dr Su's schedule was already filled with pre-arranged appointments.
The university said it was unable to accommodate the request at short notice and offered to let them meet the senior associate provost in charge of undergraduate education, but the family declined.
They wanted to speak to Dr Su, who was the first to take them through the sequence of events leading to Mr Widjaja's death.
His family members were also unable to meet Prof Chan to hear his side of the story, despite making a trip to his condominium home in Jurong East on Friday.
Read the full story in Monday's edition of The Straits Times.
less
|
|
| |
|
christovwiloto uploaded a new video
(3 months ago)

WHEN YOU BELIEVE
Many nights we've prayed With no proof anyone could hear I...
more
WHEN YOU BELIEVE
Many nights we've prayed With no proof anyone could hear In our hearts a hopefull song We barely understood
Now we are not afraid Although we know there's much to fear We were moving mountains long Before we knew we could
There can be miracles, when you believe Though hope is frail, it's hard to kill Who knows what miracles you can achieve When you believe, somehow you will You will when you believe
In this time of fear When prayers so often prove in vain Hope seems like the summer birds Too swiftly flown away
Yet now I'm standing here My heart's so full I can't explain Seeking faith and speaking words I never thought I'd say
There can be miracles, when you believe Though hope is frail, it's hard to kill Who knows what miracles you can achieve When you believe, somehow you will You will when you believe
They don't know it's often when you ask (Oh) And it's easy to give in to your fears (Oh...Ohhhh) But when you're blinded by your pain Can't see your way straight throught the rain Boy,am i still resilient voice Says love is the relief (Ohhh)
There can be miracles (Miracles) When you believe (Lord, when you believe) Though hope is frail (Though hope is frail) It's hard to kill (Hard to kill, Ohhh) Who knows what miracles,you can achieve When you believe, somehow you will(somehow,somehow, somehow) somehow you will You will when you believe
You will when you You will when you believe Just believe...in your heart Just believe You will when you believeeeeeeeeeee
less
|
|